oleh: Rahmadi Trimananda
Den Haag, Pada hari Sabtu tanggal 13 September 2008, Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda sedikit ramai dengan adanya Sidang Umum Presidium PPI Belanda. Sidang Umum Presidium PPI Belanda bersifat tahunan dan beragendakan hal-hal seperti pertanggungjawaban Sekretaris Jendral (Sekjen) PPI Belanda untuk periode tersebut, pemilihan Sekjen PPI Belanda untuk periode berikutnya, dan penetapan garis-garis besar kegiatan PPI Belanda untuk satu tahun berikutnya.
Sebagai informasi singkat, PPI Belanda merupakan sebuah organisasi yang memayungi organisasi-organisasi PPI di tiap kota di Belanda. Saat ini, PPI Belanda beranggotakan 13 buah organisasi PPI dari seluruh Belanda. PPI Belanda sendiri berbentuk Dewan Presidium yang beranggotakan perwakilan dari setiap PPI di tingkat kota. Organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda sendiri sudah dimulai hampir 100 tahun yang lalu. Tepat setelah Budi Oetomo lahir, beberapa pelajar Indonesia yang dikirimkan ke Belanda memantapkan organisasi kemahasiswaan Indonesia di Belanda menjadi sebuah organisasi yang bermuatan politik. Sejarah PPI Belanda yang lebih detail dan tindak-tanduknya selama ini bisa dilihat lebih jauh di situs resmi PPI Belanda (http://www.ppibelanda.org/).
Siang itu, tepat pukul 12:00 (sesuai undangan sidang yang telah disebarkan sebelumnya) hanya ada segelintir perwakilan dari beberapa PPI kota. Sayangnya, sidang belum bisa dibuka karena harus menunggu kuorum. Kira-kira pukul 13:30, barulah tercapai jumlah yang cukup untuk perwakilan dari PPI tiap kota. Sidang pun akhirnya dibuka dengan dihadiri oleh perwakilan dari 9 buah PPI kota, yaitu PPI Rotterdam, PPI Den Haag, PPI Kota Den Haag, PPI Delft, PPI Arnhem-Nijmegen, PPI Deventer, PPI Wageningen, PPI Amsterdam, dan PPI Enschede.
Sidang ini diawali dengan penunjukan pemimpin sidang yang diambil dari salah satu perwakilan PPI kota yang hadir saat itu. Kebetulan punya kebetulan, perwakilan dari PPI Delft, yaitu penulis sendiri, mendapatkan kehormatan sebagai pemimpin sidang. Selanjutnya, sidang dimulai dengan pembacaan laporan pertanggungjawaban dari Sekretaris Jendral yang masih menjabat, yaitu Christian Santoso dari PPI Den Haag. Mata agenda ini berlangsung cukup alot dan sengit, terutama ketika sidang harus memutuskan untuk menerima laporan pertanggungjawaban tersebut atau tidak. Pasalnya, perwakilan PPI tiap kota mengajukan pertanyaan dan tanggapan-tanggapan, serta kritikan-kritikan yang tidak tanggung-tanggung terhadap sang “terdakwa”. Meskipun demikian, sidang menerima laporan pertanggungjawaban tersebut pada akhirnya. Setelah istirahat sejenak, sidang dilanjutkan dengan pemilihan Sekjen yang baru untuk periode kepengurusan berikutnya. Di titik ini, muncul tiga orang calon dari hasil jajak pendapat dengan peserta sidang. Tiga orang tersebut adalah Johanes Widodo dari PPI Wageningen, Ezra Gallery dari PPI Den Haag, dan Rahmadi Trimananda dari PPI Delft yang tidak lain dan tidak bukan adalah penulis sendiri. Sepatah dua patah kata berisi visi dan misi tentang PPI Belanda untuk satu tahun ke depan dilontarkan oleh ketiga orang calon tersebut secara bergantian. Setelah itu, para hadirin mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji dan menajamkan pandangan dan sikap politis dari ketiganya. Akhirnya, pemungutan suara pun dilakukan dengan hasil yang cukup berimbang, yaitu Johanes Widodo menjadi Sekjen yang baru dengan 4 suara, Rahmadi Trimananda menjadi Wakil Sekjen dengan 3 suara, dan Ezra Gallery di urutan ketiga dengan 2 suara. Ketiganya akan menjadi tim formatur guna membentuk kesekretariatan yang baru untuk kepengurusan PPI Belanda dalam periode berikutnya. Sidang ini ditutup dengan penyerahan berkas-berkas kepengurusan secara simbolis dari Sekjen lama kepada Sekjen yang baru. Sebagai tambahan, sidang ini juga dihadiri dan dibuka oleh Yudi Fitriandi sebagai perwakilan dari Atdiknas KBRI Belanda. Selain itu, Bapak Mintarjo sebagai perwakilan dari Stichting Sapu Lidi (salah satu organisasi masyarakat Indonesia di Belanda) juga turut menghadiri acara ini. Dalam sidang kali ini, beliau juga disahkan menjadi anggota Dewan Penasihat PPI Belanda untuk periode berikutnya.
Ada banyak hal yang masih perlu dibenahi dan dirapikan. Hal ini tersurat dalam garis-garis besar PPI Belanda yang dibebankan dalam mata agenda berikutnya oleh sidang kepada Sekjen terpilih yang baru. Para pemain boleh berganti, tetapi cerita harus terus berlanjut. Demikianlah juga halnya dengan hikayat PPI Belanda sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan Indonesia di tanah Belanda ini. Sidang Umum PPI Belanda tahun 2008 ditutup dengan segudang kenangan dari para pemain lama. Lembaran lama telah selesai, tetapi lembaran baru siap dibuka untuk memulai pekerjaan rumah yang masih belum selesai. Demikianlah reportase dari Sidang Umum PPI Belanda tahun 2008.


