• Home
  • Organisasi
  • Tentang Delft
  • FAQ
PPI Delft
Perhimpunan Pelajar Indonesia Delft
  • Categories

    • Aktifitas PPI (42)
    • Artikel (11)
    • Event (11)
    • Informasi (69)
    • Jalan-jalan Yuk (4)
    • KOPI Delft (27)
    • Mak Nyuss (2)
    • Resep Nenek (5)
    • Secangkir Kopi (3)
    • Umum (20)
    • Uncategorized (3)
  • Archives

    • March 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
    • December 2008
    • November 2008
    • October 2008
    • September 2008
    • August 2008
    • July 2008
    • March 2008
    • February 2008
    • December 2007
    • November 2007
    • October 2007
    • September 2007
    • August 2007
    • July 2007
    • April 2007
  • Links

    • Log in
    • PPI Maastricht
    • PPI Den Haag
    • PPI Amsterdam
    • PPI Wageningen
    • PPI Groningen
    • PPI Belanda
    • Jadwal Transportasi Pesawat (Schiphol)
    • Simulasi Mesin Tiket Kereta
    • Panduan perjalanan di Belanda (www.9292ov.nl)
    • Transportasi Kereta NS (www.ns.nl)
    • Website TU Delft
    • Perpustakaan TU Delft
    • Website Unesco-IHE
    • InHolland Delft
    • Kota Delft
    • NESO
    • KBRI Belanda
    • Nuffic
    • ISSM 2008

  • Designed by:
    Wordpress themes

Feb 27

Resep sederhana hadapi Flu

Resep Nenek, Secangkir Kopi Tidak ada komentar »

Di pergantian musim seperti bulan Februari- Maret ini, banyak sekali rekan-rekan yang terserang penyakit flu: pusing, batuk-batuk, dan bersin.

Resep sederhana berikut ini dapat dengan mudah dibuat dan diterapkan untuk meningkatkan imunitas tubuh, dan mengembalikan kesegaran dan kesehatan. Resep ini bersumber dari guru penulis. Dan siapa saja dapat menerapkannya.

Bahan-bahan dan Proses Pembuatan:

- 1 cangkir teh Turki (+/- 150-200ml) Fresh Garlic (Bawang Putih segar), peras sari(juice)- nya

- 1 cangkir teh Turki (+/- 150-200ml) Fresh Ginger (Jahe segar), peras sari(juice)- nya

- 1 cangkir teh Turki (+/- 150-200ml) Fresh Onion (Bawang Bombay segar), peras sari(juice)- nya

- ketiganya dicampur dengan 1 toples Madu Murni [0.5 -1 kg].

Diminum 1 sendok makan 2-3 x sehari. Baik untuk meningkatkan immunitas tubuh, juga baik untuk
pernafasan dan lain-lain.

Buat yang Muslim akan lebih afdhal bila dilengkapi:
1. Baca Ihda’, menghadiahkan pahala bacaan surat Al-Fatihah, buat Nabi, ahli bayt,
sahabat, serta para Awliya’ Allah (Kekasih Allah).
2. Iringin pembuatan ramuan dengan gumaman istighfar dan salawat di mulut dan di hati.
3. Semua proses dilakukan dalam keadaan berwudhu’

Testimonial dan Tambahan dari pengalaman-pengalaman pribadi:

- Jika khawatir akan pengaruh ke bau mulut, dapat dibuat versi “lebih ringan”, yaitu dengan membuat teh dengan rebusan jahe, bawang bombay, bawang putih, madu. Minum air rebusannya. Untuk menambah rasa, boleh dengan teh atau gula. Minum dalam keadaan hangat. Insya Allah, badan lebih segar.

- Di email sebelumnya sudah dikatakan bahwa takarannya 1 sendok makan, 2-3 kali sehari.  Guru kita pernah berkata bahwa resep tradisional semacam ini tidak mempunyai efek samping, walaupun proses pengobatan atau penyembuhannya agak lama, kita perlu bersabar.  Saya sendiri biasanya minum 1sendok makan kalau flu.  Saya yakin resep ini sangat berkhasiat, apalagi dengan doa dari Guru kita. Insya Allah akan cepat sembuh penyakitnya.

- Dianjurkan pagi dan malam menjelang tidur……. Tapi saya setiap saat.. apalagi kalau batuknya gak berhenti, atau pada saat riak gak mau keluar-keluar, Minumnya satu sendok makan saja…… terus minum air hangat. Saya minumnya gak pake aturan … abisnya enak.. sedikit pedes-pedes jahe  … tahan bau bawang aja ..sebentar. Kayaknya orangtua gak masalah… di resep di bilang kalau anak2
bisa dicampur dengan teh hangat….

- Alhamdulillah saya juga sudah buat. Saya tidak pakai juicer, krn takut terlalu sedikit bahan tidak keluar airnya. Jahe, bawang putih, dan bawang bombay saya parut pakai parutan kelapa biasa, yg diatasnya terlebih dahulu diberi alas daun pisang. Setelah lembut saya peras pakai kain. Ternyata airnya lumayan banyak. (do’a mengikuti petunjuk dalam tetap kondisi belum batal wudlu). Saya tambahkan madu sumbawa yang baru petik dari hutan, LUAR BIASA rasanya, badan langsung hangat.

SEMOGA BERMANFAAT!

Dedy Wicaksono

Feb 22

KoPI Delft 5 dalam Rekaman

Aktifitas PPI, Informasi, KOPI Delft Tidak ada komentar »

Bagi pengunjung website PPI Delft yang tidak berkesempatan menghadiri secara langsung Kolokium PPI (KoPI) Delft  ke-5 pada hari Jumat, 20 Februari 2009 yang lalu, kini dapat mengikutinya lewat rekaman video di Youtube.

Pada kesempatan KoPI Delft ke-5 ini, Tim Presenter PLN mempresentasikan Visi 75-100 PLN. Untuk mengetahui lebih lanjut apa Visi 75-100 tersebut, silakan mengikuti rekaman presentasi mereka berikut ini:

Bila browser anda tidak dapat menampilkan embedded video tersebut, silakan klik link berikut untuk melihat playlist rekamannya di website Youtube.

http://www.youtube.com/view_play_list?p=CB3B21D01E8BC3E3

Feb 21

Hasil Pemilu PPI Delft 2009

Aktifitas PPI, Informasi 1 Komentar »

Rekan-rekan PPI Delft,

Pada hari Sabtu, 21 Februari 2009, rapat besar PPI Delft telah dilaksanakan untuk mensahkan revisi AD/ART PPI Delft dan juga untuk memilih ketua yang baru.

Hasil perhitungan suara untuk kandidat:
Yugi Sukriana: 36 suara
Muhammad: 30 suara
Tidak sah: 3 suara

Maka dengan hasil ini rapat anggota menetapkan ketua PPI Delft yang baru adalah Yugi Sukriana.

Panitia dari pengurus PPI Delft 2008/2009 mengucapkan selamat dan selamat bekerja. Semoga ke depannya PPI Delft menjadi lebih maju dan lebih baik lagi.

Pengurus mengucapkan terima kasih kepada anggota PPI Delft atas kehadiran dan partisipasinya hari ini, dan tak lupa untuk seluruh panitia yang telah bekerja keras demi terselenggaranya acara ini.

Sekian dan terima kasih.

Humas PPI Delft.

Feb 16

Undangan Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) 5

Aktifitas PPI, Informasi, KOPI Delft 1 Komentar »

Dear rekan-rekan PPI Delft,

Di tengah suasana perang kampanye calon ketua PPI Delft 2009-2010 yang xemakin memanax dan menyita perhatian dunia (apa kata dunia?) *smile*, jangan lupa untuk menghadiri KOPI DELFT selanjutnya yang akan diadakan pada:

Hari/tanggal: Jumat, 20 Februari 2009
Pukul: 16:00 CET
Lokasi: Zaal J, Faculty of 3ME, TU Delft, Mekelweg 2, 2628 CD Delft, the Netherlands

Pembicara pada KOPI DELFT episode 5 tsb adalah rekan-rekan kita dari PLN. Silahkan lihat judul presentasi mereka dan abstraknya di bawah.

Sampai ketemu,

a.n Tim KOPI Delft,

Zaki

===================================================================

MISI 75-100 PLN  “ANTARA TANTANGAN DAN PELUANG”

oleh Tim PLN

Sejak tahun 2007, PT. PLN (persero) sudah mencanangkan misi 75-100, yang intinya mengupayakan agar pada saat peringatan Kemerdekaan RI yang ke 75 pada tahun 2020 dirayakan dengan ratio eletrifikasi 100%, dengan kondisi ratio elektrifikasi  saat ini yang baru mencapai angka antara 60-70 %, di sisi lain, berita tentang terbatasnya kemampuan pembangkitan PLN terjadi dimana-mana, pemadaman tidak hanya di sistem-sistem kecil seperti Kalimantan dan Papua, namun juga sudah terjadi di sistem besar dan terinterkoneksi di Pulau Jawa, dan Sumatera.

Bagaimana sebenarnya kondisi bisnis kelistrikan ini dikelola? Bagaimana posisi “Bisnis Kelistrikan” ini ditempatkan oleh pemerintah? Dan apa saja langkah yang sudah ditempuh olah PLN untuk memenuhi harapan para pelangganya? Serta peluang-peluang apa saja yang masih terbuka untuk mewujudkan “Mimpi” 100% berlistrik di bumi nusantara.

Di KOPI Delft kali ini, kami coba menampilkan tantangan dan peluang yang masih dimiliki PT PLN (Persero) untuk mengemban tugasnya menyediakan “Listrik untuk kehidupan yang lebih baik…”

Feb 15

Pemilu PPI Delft 2009

Aktifitas PPI, Informasi Tidak ada komentar »

Rekan-rekan PPI Delft,

Mewakili panitia, saya ingin mengingatkan ke teman-teman untuk hadir dan berpartisipasi di acara puncak Pemilu PPI Delft. Yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal: Sabtu/21 Februari 2009
Tempat: Mina Krusemanstraat, Delft
Waktu: Pukul 13.00 s.d selesai

Atas nama Humas PPI Delft,

Ahmad Faisal

Feb 14

Aplikasi Statistik Permudah Perawatan Kabel Listrik Bawah Tanah

Artikel, Event, Informasi Tidak ada komentar »

Pak Edi mempresentasikan penelitiannya (Kredit foto: Baqir)

“Dengan menggunakan pemodelan statistik, data-data pengukuran Partial Discharge (PD) pada kabel listrik tegangan menengah, dapat digunakan untuk memperkirakan umur kabel, dan kapan kabel tersebut dapat diganti”, demikian tegas Edy Mu’tasim Billah dalam presentasi penelitian tesis kelulusan master-nya di TU Delft Senin, 9 Februari 2009.

Partial Discharge (PD) sendiri adalah fenomena ketika terjadi kerusakan lokal pada insulasi kabel ketika kabel diberikan stress berupa tegangan tinggi tertentu.Tujuan Penelitian Edy sendiri adalah untuk menganalisis data PD dari lapangan, dan memecahkan masalah pengukuran PD yang kurang baik. Problem-problem yang dihadapi dalam transfer data pengukuran PD saat ini adalah antara lain kurangnya data yang diambil atau dicatat sehingga tidak cukup untuk analisis statistik, serta tipe-tipe komponen (kabel) yang belum didefinisikan secara jelas.

Edy Mu’tasim Billah, yang juga adalah karyawan BUMN PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengusulkan suatu prosedur untuk mentransformasikan data pengukuran PD menjadi informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan untuk manajemen aset perusahaan utilitas listrik. Dalam hal ini aset yang ditinjau adalah kabel listrik untuk tegangan menengah (20 kV).

Dari informasi diagnostik yang didapat dari data lapangan, Edy Billah mengusulkan pendekatan statistik untuk pengklasifikasian status kondisi aset kabel listrik. Ada tiga kategori yang diusulkan Edy Billah: “masih baru”, “tua”, “amat tua”.

Data PD yang didapat di lapangan di-fit-kan dengan suatu model distribusi statistik, dan dari situ dilakukan klasifikasi kategori statusnya. Untuk evaluasi, jenis material kabel yang digunakan juga perlu diketahui, misalnya apakah termasuk kabel PILC (Paper-Insulated Lead Cable), ataukah jenis kabel XLPE (Cross-Linked PolyEthylene) ataukah jenis campuran. Demikian pula perlu didata ukuran terminasinya, sambungan, maupun insulasinya.

Pak Edi dan Professor J.J. Smit, pembimbing tesis (Kredit foto: Baqir)

Data kedua adalah data pengukuran PD itu sendiri, dengan melakukan tiga macam pembebanan tegangan tinggi: yang pertama sebesar tegangan nominal, yaitu tegangan operasional kabel itu; yang kedua dikenakan 1,7 kali besar tegangan nominal yang normal; dan tes pembebanan ketiga adalah pengenaan tegangan insepsi, yaitu tegangan maksimum saat mulai terjadinya kerusakan lokal pada insulasi.

Dari data-data ini, setelah dipaskan dengan model statistik yang dipilih, misalnya distribusi Weibull, didapatkan suatu angka index kondisi (Condition Index Value atau CI value) aset kabel terkait. EM Billah mengklasifikasikan menjadi tiga kelompok CI value: kelompok 9 untuk CI value 6,6 – 9; kelompok 6 untuk CI value 4.5 – 6; dan kelompok 1 untuk CI value 1- 4,2. Dari pengelompokan ini, dikirimkan lebih lanjut ke bagian perawatan aset (Asset Maintenance) untuk ditindaklanjuti. Misalnya kabel yang termasuk kelompok 1 sudah termasuk “sangat tua” dan perlu diganti.

Metode pengukuran PD yang dilakukan untuk klasifikasi aset yang diusulkan EM Billah bersifat off-line. Artinya saat pengukuran/pengujian kabel, jaringan listrik di daerah tersebut harus dimatikan untuk sesaat. Metode lain yang menurut Edy masih dalam tahap penelitian, adalah metode pengukuran PD secara on-line, tanpa perlu mematikan jaringan. Didik Dahlan, salah seorang rekan Edy Billah yang turut menghadiri presentasi penelitian Edy, mengatakan ada setidaknya tiga cara mengukur PD secara online: metode akustik (mendengar percikan listrik PD), metode optik (melihat terjadinya percikan saat PD), atau metode kimia (melihat misalnya perubahan pada minyak pelumas untuk insulasi trafo). Kekurangan metode online adalah besarnya derau (noise) serta masih bersifat kualitatif, sekedar tahu ada atau tidak ada PD. Salah seorang rekan karyasiswa PLN lain, Buyung Munir, yang juga baru mempertahankan tesis S2-nya, mengusulkan suatu algoritma yang dapat membedakan sinyal asli dari derau, serta menentukan letak PD secara spesifik pada metode pengukuran online ini.

Pengukuran PD pada kabel listrik bawah tanah secara off-line masih belum memiliki prosedur yang baku di dunia. Elpis Sinambela, yang mempertahankan tesisnya juga beberapa waktu yang lalu sebelum Edy, mengusulkan suatu prosedur baku untuk melakukan pengukuran PD secara off-line ini. Tesis Edy Billah memfokuskan pada analisis hasil pengukuran tersebut untuk pengambilan keputusan tahap berikutnya, yaitu Asset Management. Penelitian Elpis dan Edy memfokuskan pada kabel bawah tanah tegangan menengah 20 kV, untuk daerah regional dalam kota . Sedangkan penelitian Buyung Munir terfokus pada kabel bawah tanah untuk tegangan tinggi > 20 kV (High-voltage Cross Bonding), antara lain 70 kV, dan 150 kV. Kabel tegangan tinggi digunakan untuk distribusi dari pembangkit ke daerah-daerah konsumsi listrik.

Berfoto bersama dengan rekan-rekan PPI Delft selepas presentasi (Kredit foto: Baqir)

Sekalipun saat ini sebagian besar jaringan listrik PLN menggunakan kabel menggantung (overhead line) karena mahalnya instalasi kabel bawah tanah (10 kali lipat lebih mahal), namun Edy Billah, yang setelah pulang ke Indonesia ini akan bertugas di bagian perencanaan Jaringan Distribusi Jawa Barat, memperkirakan bahwa penggunaan kabel bawah tanah akan makin meningkat di masa depan, khususnya untuk kota-kota besar. Kabel bawah tanah, sekalipun instalasinya mahal memiliki keunggulan antara lain: lebih indah secara estetika, lebih aman (misalnya terhadap gangguan petir), serta lebih bebas dari gangguan (tersangkutnya layang-layang) bila dilakukan perawatan secara baik. Untuk itu, PLN sedari dini perlu memperhatikan pengambilan data secara terinci dari jaringan instalasi kabel bawah tanahnya, sehingga proses perawatan berbasis kondisi (condition-based management) dapat dilakukan. Perawatan berbasis kondisi, seperti pengukuran PD baik off-line maupun on-line, memungkinkan manajemen asset yang lebih hemat dan lebih terarah, dibandingkan perawatan berbasis waktu, di mana pemeriksaan dilakukan secara periodik pada semua bagian sistem. Demikian Edy menutup penjelasannya, yang juga di-amini Didik Dahlan, rekan karyasiswa PLN lainnya. (dw)

Baca pula liputan-liputannya di detikcom:

http://www.detiknews.com/read/2009/02/11/000532/1082856/10/aplikasi-statistik-permudah-perawatan-kabel-listrik-bawah-tanah

http://www.detiknews.com/read/2009/02/11/232849/1083509/10/pln-pengukuran-pd-lebih-hemat-dan-terarah

http://www.detiknews.com/read/2009/02/12/162321/1084027/10/jaringan-kabel-bawah-tanah-pln-lebih-rapi-dan-aman

http://www.detiknews.com/read/2009/02/12/171758/1084078/10/karyasiswa-di-luar-negeri-tingkatkan-performansi-pln

Feb 10

Laporan Pandangan Mata KoPI Delft 4: “Diagnosa berbasis mikrofluida: peluang menuju kemandirian medis di Indonesia?”

Aktifitas PPI, Informasi, KOPI Delft, Uncategorized Tidak ada komentar »
Dr. Gea Parikesit tengah menjelaskan teknologi mikrofluida

Dr. Gea Parikesit tengah menjelaskan teknologi mikrofluida

“Perangkat mikrofluida dapat digunakan sebagai media untuk mendiagnosa penyakit. Cara ini adalah salah satu cara diagnosa yang hasilnya didapatkan dengan cepat dan dengan media analisa yang mudah tersebar secara luas” demikian yang disampaikan oleh Dr. Ir. Gea Oswah Fatah Parikesit pada saat Kolokium PPI Delft IV Jumat 6 Februari di fakultas 3mE TU Delft.

Mikrofluida adalah suatu media dengan sistem fluida berskala mikro yang untuk menggerakannya menggunakan perbedaan tegangan listrik. Hasil diagnosis mikrofluida yang dilakukan pada sample bisa juga disimpan dalam format data elektronik untuk keperluan analisis yang lebih mendalam.

Lebih lanjut, Gea yang juga merupakan peneliti Post-Doctoral di TU Delft ini memaparkan bahwa, Aplikasi sistem ini dapat juga diterapkan dalam kasus wabah penyebaran virus flu burung di Indonesia. Sampai tahun 2008 Indonesia masih menjadi salah satu negara endemik flu burung, hal ini disebabkan oleh lemahnya tindakan preventif serta lambatnya pengambilan tindakan apabila suatu daerah sudah positif terserang flu burung.

Hadirin menyimak penjelasan Pak Gea dengan penuh perhatian

Hadirin menyimak penjelasan Pak Gea dengan penuh perhatian

Sementara itu, Diagnosis terhadap virus flu burung  haruslah dilakukan dengan secara spesifik dan dalam tempo relatif singkat agar dapat dipersiapkan tidakan selanjutnya. Mikrofluida merupakan salah satu alternatif pilihan dalam membantu proses diagnosis tersebut serta menganalisis ada atau tidak adanya penyakit flu burung pada tahap awal.

Dalam diskusi terungkap bahwa tantangan yang mungkin muncul adalah bagaimana supaya teknik-teknik diagnosis cepat semacam ini bisa ditemukan sendiri oleh bangsa kita, mengingat kita lah yang akrab dengan masalah-masalah kesehatan yang terjadi di negara kita dan sudah seharusnya kita pula lah yang menemukan solusinya secara kreatif. “Selama masih terikat dengan patent dari negara lain, sulit untuk mengatakan kita sudah independen dalam mengelola sistem kesehatan kita”, Tandasnya.

Dan untuk mengatasi masalah paten tersebut forum diskusi KOPI Delft mengarah kepada upayauntuk mengerti tentang proses pembuatan serta struktur model sehingga produk baru dapat ditemukan tanpa melanggar produk yang sudah memiliki paten.

Gea juga mengungkapkan, bahwa tantangan terbesar terletak pada implementasi perangkat ini di lapangan, terutama dari aspek sosial, budaya, dan ekonomi karena dalam teknologi ini seolah fungsi diagnosis yang umumnya dilakukan oleh dokter diwakilkan oleh sebuah perangkat mikrofluida. Sehingga sangat mungkin untuk disalahpahami sebagian masyarakat bahwa peralatan lah yang memvonis penyakit seseorang.

Selain itu, tenaga medis dalam jumlah yang cukup banyak juga sangat dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan daya jangkau diagnosis yang seluas kepulauan Indonesia, selain juga karena alat tersebut berhenti hanya pada tahap diagnosis namun langkah penyembuhan selanjutnya sangat tergantung dari ketersediaan tenaga kesehatan di lapangan. (db/ys)

Partisipan KoPI Delft 4 berfoto bersma selepas acara

Partisipan KoPI Delft 4 berfoto bersma selepas acara

Feb 09

KoPI Delft 4 dalam Rekaman

Aktifitas PPI, Informasi, KOPI Delft 1 Komentar »

Bagi pengunjung website PPI Delft yang tidak berkesempatan menghadiri secara langsung pada hari Jumat, 6 Februari 2009 yang lalu, kini dapat mengikutinya lewat rekaman video di Youtube.

Bila browser anda tidak dapat menampilkan embedded video tersebut, silakan klik link berikut untuk melihat playlist rekamannya di website Youtube.

http://www.youtube.com/view_play_list?p=792092393FE7FA79

Feb 04

Two hundred years Dutch East India Company

Event, Informasi Tidak ada komentar »

oleh Femme Gaastra
Senin, 16 Maret 2009, pukul 20:15
van der Mandelezaal Oude Delft 183, Delft
Gratis

Kutipan:

The Dutch East India Company (Verenigde Oostindische Compagnie or VOC) founded in 1602, became the world’s largest enterprise of the 17th century. Within three decades it had replaced the Portuguese as the dominant commercial power in the trade between Europe and the East. Several factors accounted for the commercial success of the VOC. A major innovation was the fact that its share capital became permanent, thus enabling the directors to formulate a long-term strategy and to invest money in factories and ships and trade in Asia. The directors and their representatives in Asia realized that the intra-Asian trade could be very profitable for the Company.

The Company was determined and ruthless in its policy, using commercial tactics, diplomatic interventions and military force to reach its goal. The Company employed an impressive workforce in Asia, rising to over 35.000 men in the 18th century. During its existence, the VOC sent some 950.000 men – mostly sailors and soldiers – to Asia, of whom only one third returned to Europe.

This lecture will address the complex organization of the VOC, the way in which the directors were able to cope with the problems of the intercontinental trade in the early-modern time and the cultural impact of this meeting between West and East.

This lecture is organised in collaboration with the Ethnographic Society Delft, www.verreculturendelft.nl

Femme Gaastra is Professor of Maritime History at the University of Leiden and a leading expert on the history of the Dutch East India Company.

Sumber informasi: Agenda TU Delft

Feb 04

Indonesia and the Netherlands: Shared histories?

Event, Informasi Tidak ada komentar »

Kuliah umum oleh Henk Schulte Nordholt.

Tanggal: 4 Februari 2009
Waktu: 20.15 - 22.00
Tempat: DOK, Vesteplein 100, Delft

Terbuka untuk umum tanpa biaya masuk, dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris.

Diselenggarakan oleh Studium Generale TU Delft bekerja sama dengan Ethnographic Society Delft (www.verreculturendelft.nl)

Informasi selengkapnya: website dan file pdf
Informasi mengenai pembicara:

Henk Schulte Nordholt is acting director of the Royal Institute of Linguistics and Anthropology in Leiden and professor of Southeast Asian Studies at the VU University in Amsterdam. He is the author of the recently published book Indonesië na Soeharto, Reformasi en Restauratie.(diambil dari website TU Delft)

Powered by WordPress .::. Designed by SiteGround Web Hosting .::. Customized by Divisi Website PPI Delft

cssandhtml