• Home
  • Organisasi
  • Anggota
  • Forum PPI Delft
  • Tentang Delft
  • FAQ
PPI Delft
Perhimpunan Pelajar Indonesia Delft
  • Categories

    • Aktifitas PPI (45)
    • Artikel (12)
    • Event (19)
    • Informasi (76)
    • Jalan-jalan Yuk (4)
    • KOPI Delft (34)
    • Mak Nyuss (2)
    • Resep Nenek (6)
    • Secangkir Kopi (3)
    • Umum (22)
    • Uncategorized (6)
  • Archives

    • November 2011
    • October 2011
    • September 2011
    • August 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • March 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
    • December 2008
    • November 2008
    • October 2008
    • September 2008
    • August 2008
    • July 2008
    • March 2008
    • February 2008
    • December 2007
    • November 2007
    • October 2007
    • September 2007
    • August 2007
    • July 2007
    • April 2007
  • Links

    • Log in
    • PPI Maastricht
    • PPI Den Haag
    • PPI Amsterdam
    • PPI Wageningen
    • PPI Groningen
    • PPI Belanda
    • Jadwal Transportasi Pesawat (Schiphol)
    • Simulasi Mesin Tiket Kereta
    • Panduan perjalanan di Belanda (www.9292ov.nl)
    • Transportasi Kereta NS (www.ns.nl)
    • Website TU Delft
    • Perpustakaan TU Delft
    • Website Unesco-IHE
    • InHolland Delft
    • Kota Delft
    • NESO
    • KBRI Belanda
    • Nuffic
    • PPI Eindhoven

  • Designed by:
    Wordpress themes

Feb 10

Laporan Pandangan Mata KoPI Delft 4: “Diagnosa berbasis mikrofluida: peluang menuju kemandirian medis di Indonesia?”

Aktifitas PPI, Informasi, KOPI Delft, Uncategorized Add comments
Dr. Gea Parikesit tengah menjelaskan teknologi mikrofluida

Dr. Gea Parikesit tengah menjelaskan teknologi mikrofluida

“Perangkat mikrofluida dapat digunakan sebagai media untuk mendiagnosa penyakit. Cara ini adalah salah satu cara diagnosa yang hasilnya didapatkan dengan cepat dan dengan media analisa yang mudah tersebar secara luas” demikian yang disampaikan oleh Dr. Ir. Gea Oswah Fatah Parikesit pada saat Kolokium PPI Delft IV Jumat 6 Februari di fakultas 3mE TU Delft.

Mikrofluida adalah suatu media dengan sistem fluida berskala mikro yang untuk menggerakannya menggunakan perbedaan tegangan listrik. Hasil diagnosis mikrofluida yang dilakukan pada sample bisa juga disimpan dalam format data elektronik untuk keperluan analisis yang lebih mendalam.

Lebih lanjut, Gea yang juga merupakan peneliti Post-Doctoral di TU Delft ini memaparkan bahwa, Aplikasi sistem ini dapat juga diterapkan dalam kasus wabah penyebaran virus flu burung di Indonesia. Sampai tahun 2008 Indonesia masih menjadi salah satu negara endemik flu burung, hal ini disebabkan oleh lemahnya tindakan preventif serta lambatnya pengambilan tindakan apabila suatu daerah sudah positif terserang flu burung.

Hadirin menyimak penjelasan Pak Gea dengan penuh perhatian

Hadirin menyimak penjelasan Pak Gea dengan penuh perhatian

Sementara itu, Diagnosis terhadap virus flu burung  haruslah dilakukan dengan secara spesifik dan dalam tempo relatif singkat agar dapat dipersiapkan tidakan selanjutnya. Mikrofluida merupakan salah satu alternatif pilihan dalam membantu proses diagnosis tersebut serta menganalisis ada atau tidak adanya penyakit flu burung pada tahap awal.

Dalam diskusi terungkap bahwa tantangan yang mungkin muncul adalah bagaimana supaya teknik-teknik diagnosis cepat semacam ini bisa ditemukan sendiri oleh bangsa kita, mengingat kita lah yang akrab dengan masalah-masalah kesehatan yang terjadi di negara kita dan sudah seharusnya kita pula lah yang menemukan solusinya secara kreatif. “Selama masih terikat dengan patent dari negara lain, sulit untuk mengatakan kita sudah independen dalam mengelola sistem kesehatan kita”, Tandasnya.

Dan untuk mengatasi masalah paten tersebut forum diskusi KOPI Delft mengarah kepada upayauntuk mengerti tentang proses pembuatan serta struktur model sehingga produk baru dapat ditemukan tanpa melanggar produk yang sudah memiliki paten.

Gea juga mengungkapkan, bahwa tantangan terbesar terletak pada implementasi perangkat ini di lapangan, terutama dari aspek sosial, budaya, dan ekonomi karena dalam teknologi ini seolah fungsi diagnosis yang umumnya dilakukan oleh dokter diwakilkan oleh sebuah perangkat mikrofluida. Sehingga sangat mungkin untuk disalahpahami sebagian masyarakat bahwa peralatan lah yang memvonis penyakit seseorang.

Selain itu, tenaga medis dalam jumlah yang cukup banyak juga sangat dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan daya jangkau diagnosis yang seluas kepulauan Indonesia, selain juga karena alat tersebut berhenti hanya pada tahap diagnosis namun langkah penyembuhan selanjutnya sangat tergantung dari ketersediaan tenaga kesehatan di lapangan. (db/ys)

Partisipan KoPI Delft 4 berfoto bersma selepas acara

Partisipan KoPI Delft 4 berfoto bersma selepas acara

Leave a Reply

Powered by WordPress .::. Designed by SiteGround Web Hosting .::. Customized by Divisi Website PPI Delft

cssandhtml