Laporan Pandangan Mata Kolokium PPI Delft (KopiDelft)
Jumat, 8 mei 2009
16.00-18.00
Ruang J, Fakultas 3ME
Mekelweg 2, 2628CD
Delft
oleh Saputra
Proyek Nano-Satelit Mahasiswa Indonesia: Sebuah Visi, Ambisi dan Tantangan
Delfi-C3 yang berhasil diluncurkan pada tahun 2008 lalu adalah nanosatelit pertama buatan mahasiswa Belanda yang berhasil mengorbit bumi. Demikian diungkapkan Dwi Hartanto pada Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) yang rutin diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda, Jumat lalu. Dalam presentasinya, Dwi yang sedang menyusun tesis Masternya pada jurusan computer engineering Universitas Teknologi Delft (TU Delft), Belanda ini, memaparkan riset pembuatan nanosatelit, mulai dari desain, fitur-fitur yang disyaratkan, serta misi peluncurannya. Meski diklaim sebagai satelit buatan mahasiswa, kesuksesan Delfi-C3 tidak terlepas dari andil pemerintah dan industri yang cukup besar. Hal yang wajar dilakukan di negara maju, mengingat dunia riset memang semestinya terbangun oleh tiga pilar besar, yaitu institusi pendidikan, pemerintah, serta industri. Suatu hal yang kini tengah dirintis di Negara kita. Saat ini, Dwi sendiri tengah terlibat secara aktif dalam proyek pembuatan nanosatelit generasi berikutnya, juga oleh mahasiswa TU Delft. Nanosatelit generasi berikutnya ini dinamakan Delfi-n3Xt, dan dijadwalkan akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2010.
Pada kesempataan itu pula, kolega Dwi, Aryo Primagati yang saat ini bekerja sebagai insinyur telekomunikasi pada ISIS (Innovative Solutions In Space), sebuah perusahaan kecil yang didirikan alumni TU Delft yang pernah terlibat pada proyek nanosatelit Delfi-C3, mengatakan bahwa riset pembuatan nanosatelit sangat cocok dijadikan proyek penelitian dalam skala universitas. Selain desain yang lebih sederhana pada ukuran yang lebih kecil, dana yang dibutuhkan juga jauh lebih kecil dibandingkan satelit konvensional. Sekedar perbandingan, Aryo mengatakan bahwa untuk membangun dan meluncurkan sebuah satelit normal diperlukan biaya jutaan Euro (puluhan hingga ratusan miliar rupiah) dengan waktu pengembangan 5-10 tahun. Sedangkan untuk nano-satelit, seperti Delfi C3 atau Delfi-n3Xt, hanya diperlukan waktu satu sampai dua tahun pengembangan dengan biaya sekitar 100 sampai 200 ribu Euro (sekitar 1,5 sampai 3 Milyar Rupiah).
Pada akhir sesi presentasi KOPI Delft kali ini, Dedy Wicaksono, peneliti pasca-doktoral di TU Delft, memaparkan visi dan ambisi mereka bersama untuk menggagas sebuah proyek nanosatelit untuk mahasiswa Indonesia yang diberi nama INSPIRE (Indonesian Nano-Satellite Platform Initiative for Research and Education). Mengingat, sebenarnya Indonesia telah merintis dunia riset antariksa sejak dekade 60an. Ide yang dibawa oleh Dedy bersama koleganya adalah membuat suatu konsorsium yang terdiri dari berbagai universitas di Indonesia, lembaga-lembaga penelitian pemerintah dan tentunya rekanan dari dunia industri sebagai sponsor pendanaan. Diskusi menjadi hangat ketika seorang peserta diskusi menanyakan misi dan manfaat yang bisa diambil dari proyek nano-satelit ini selain nilai prestise dan gengsi semata. Masalah akses pendanaan yang bakal menjadi hambatan pun menjadi perhatian sejumlah peserta diskusi lainnya. Merespons dua pertanyaan tersebut, dengan diplomatis Dedy menjawab bahwa nanosatelit adalah sebuah platform teknologi yang dapat dipakai untuk berbagai macam aplikasi kebutuhan, bahkan misi yang sifatnya komersial sekalipun. Untuk peluncuran pertama kiranya akan sangat berat untuk mensyaratkan misi yang sulit atau yang bersifat komersial, terlebih tujuan utamanya adalah untuk riset dan edukasi serta peningkatan kepercayaan diri bangsa. Senada dengan Dedy, Aryo pun menilai misi peluncuran INSPIRE 1 hendaknya tidak terlalu mensyaratkan misi yang terlampau sulit. Pada kenyataannya, selain sebagai satelit komunikasi radio amatir, misi Delfi-C3 yang utama adalah sebagai technology demonstration and development. Mengenai masalah pendanaan, kiranya perlu dicari solusi yang terbaik. Salah satu yang sudah direncanakan adalah mengajukan proposal proyek INSPIRE ke berbagai pihak terkait di tanah air.
Masalah klasik, pendanaan disinyalir akan menjadi masalah serius terlaksananya visi proyek INSPIRE ini. Belum adanya sinergi antara universitas, lembaga penelitian pemerintah seperti LIPI, LAPAN, BATAN, serta dunia industri, adalah hambatan terbesar laju riset di tanah air. Dalih keterbatasan dana dan anggaran sebenarnya tidak perlu ada, jika saja semua pihak yang berkepentingan dapat ‘duduk’ bersama, merumuskan dan membuat langkah kongkrit inisiatif proyek bersama demi kemajuan bangsa. Jika dana yang terbatas tersebut digabungkan dalam sebuah proyek riset bersama, bukan tidak mungkin riset unggulan yang laik disejajarkan dengan riset universitas negara-negara maju di dunia dapat dilaksanakan.
Acara Kolokium PPI Delft atau sering disingkat KOPI Delft ini, adalah acara rutin dwi mingguan yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda. Arsip KoPI Delft dapat dibaca di http://kopidelft. ppidelft. net


