• Home
  • Organisasi
  • Tentang Delft
  • FAQ
PPI Delft
Perhimpunan Pelajar Indonesia Delft
  • Categories

    • Aktifitas PPI (42)
    • Artikel (11)
    • Event (11)
    • Informasi (69)
    • Jalan-jalan Yuk (4)
    • KOPI Delft (27)
    • Mak Nyuss (2)
    • Resep Nenek (5)
    • Secangkir Kopi (3)
    • Umum (20)
    • Uncategorized (3)
  • Archives

    • March 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
    • December 2008
    • November 2008
    • October 2008
    • September 2008
    • August 2008
    • July 2008
    • March 2008
    • February 2008
    • December 2007
    • November 2007
    • October 2007
    • September 2007
    • August 2007
    • July 2007
    • April 2007
  • Links

    • Log in
    • PPI Maastricht
    • PPI Den Haag
    • PPI Amsterdam
    • PPI Wageningen
    • PPI Groningen
    • PPI Belanda
    • Jadwal Transportasi Pesawat (Schiphol)
    • Simulasi Mesin Tiket Kereta
    • Panduan perjalanan di Belanda (www.9292ov.nl)
    • Transportasi Kereta NS (www.ns.nl)
    • Website TU Delft
    • Perpustakaan TU Delft
    • Website Unesco-IHE
    • InHolland Delft
    • Kota Delft
    • NESO
    • KBRI Belanda
    • Nuffic
    • ISSM 2008

  • Designed by:
    Wordpress themes

Oct 13

Memesan Uittreksel Secara Online

Artikel, Informasi, Umum Tidak ada komentar »

Uittreksel (surat domisili) yang intinya berupa pernyataan dari Gemeente setempat bahwa seseorang tinggal di kota tsb. seringkali dibutuhkan untuk berbagai keperluan: perpanjangan paspor di KBRI, pengurusan izin kerja, aplikasi visa ke Negara lain, dll.

Sekedar tips bila rekan-rekan membutuhkan uittreksel. Biasanya bila ini dilakukan dengan mendatangi langsung kantor Gemeente, perlu antri cukup lama (bila sedang tidak beruntung). Cara yang cukup nyaman untuk mendapatkan Uittreksel adalah dengan memesan secara online yang bisa dilakukan setiap saat. Pembayaran bisa dilakukan dengan iDEAL (internet banking) tanpa biaya tambahan dibandingkan dari loket Gemeente.

Saya coba rangkum langkah-langkah untuk memesan uittreksel dari Gementee Delft secara online:

1. http://www.gemeentedelft.info/gvscriptvk/dspage.asp

2. Gunakan fasilitas serach (’zoeken‘) dengan keywords: ‘uittreksel GBA’, klik hasil search uittreksel GBA.

3. Pada paragraf: ‘Aanvraag/bestel procedure‘, pilih ‘digitale aanvraag‘, kemudian ‘klik hier om te gaan‘

4. Login dengan menggunakan pilihan: ‘burgerservicenummer (BSN), geboortedatum, postcode en huisnummer‘

5. Isi: ‘sofinummber (BSN), tgl lahir, kode pos, nomor rumah’.

6. Cek data yg ditampilkan, isi nomor telepon + email. Klik tab ‘type uittreksel‘. Saya sarankan pilih ‘internationaal uittreksel ‘ja‘, [ke atas] pilih ‘verniuwen paspoort (met verm ouders)‘, pilih ‘taal‘ yang mengandung ‘engels‘.

7. Cek rangkuman data uittreksel, bila benar klik ‘Bevestigen‘.

8. Pilih metode pembayaran ‘iDEAL’, pilih bank masing-masing, biasanya pelajar TUDelft menggunakan ‘ABN AMRO’.

9. Lakukan pembayaran internet banking biasa.

10. uittreksel akan dikirim ke alamat yg terdaftar dalam waktu 1 hari kerja.

Semoga berguna.

Witono Susanto (Awi)

Aug 27

“Bargain Hunting” di Belanda

Artikel, Informasi, Umum Tidak ada komentar »

Author: Zalfany Urfianto

*Artikel ini dipublikasikan di website PPI Delft dengan seijin penulis*

Karena harus pindah dari rumah “furnished” ke rumah “unfurnished”, maka harus kesana kemari mencari-cari barang untuk mengisi rumah baru. Berikut adalah catatan pribadi saya tentang beberapa website yang bisa dipakai untuk membantu mencari barang-barang dengan prinsip ekonomi sebaik-baiknya (baca: semurah mungkin :p) :

Kategori Pasar

  1. http://www.marktplaats.nl
    • Pasar online paling populer di Belanda. Segala macam barang (baru dan bekas) yang bisa dijual bisa ditemukan di sini.
    • Feature paling penting: mencari penjual dalam radius tertentu (<5km, <10km…) dari kode pos tertentu (bisa diisi dengan kode pos rumah kita misalnya).
  2. http://www.ebay.nl
    • e-bay cabang Belanda.
    • IMO, tidak selengkap marktplaats, namun sangat bermanfaat untuk mencari dan memesan barang dari luar Belanda (mis. Jerman, Inggris, Hongkong, US, dsb.). Untuk barang dari luar Uni Eropa, ingat pajak bea masuk :) (keterangan lengkap lihat di sini: http://bit.ly/5LXQK ).

Kategori Pembanding Harga (prijsvergelijking)

Website-website ini mengumpulkan data-data dari beberapa toko (online), dan kemudian menampilkan harga yang ditawarkan dalam satu halaman. Dengan mengurutkan dari harga termurah (prijs oplopend), kita bisa dengan mudah mengetahui toko (online) mana yang saat ini menawarkan harga termurah untuk suatu produk tertentu.

  1. http://www.kelkoo.nl
    • Salah satu yang paling besar, jaringannya ada di 10 negara di Eropa.
  2. http://www.twenga.nl
    • Mirip dengan yang sebelumnya, tetapi ada beberapa toko yang berbeda.
  3. http://tweakers.net
    • Lihat di bagian Pricewatch -> Prijzen
    • Fitur paling menarik adalah grafik sejarah harga (price history), sehingga kita bisa tahu persis kapan harga suatu produk dibanting :)

Beberapa yang lain: http://www.ciao-shopping.nl , http://www.hardware.info (feature mirip dengan tweakers.net), http://www.elcheapo.nl , http://www.vergelijk.nl , dan http://www.kieskeurig.nl (info dari Wisnu).

Kategori Diskon Toko (aanbiedingen)

Website-website ini mengumpulkan diskon-diskon yang sedang ditawarkan di toko-toko retail.

  1. http://www.voordeelmuis.nl/
    • Website ini mengumpulkan dan memindai selebaran-selebaran diskonan dari lebih dari 100 toko/retailer besar, kemudian mengkategorikan barang-barang yang sedang didiskon (niat banget yah :D)
    • Meskipun tampilan website tidak terlalu meyakinkan, tetapi highly recommended :)
  2. http://www.actie.nl
    • Informasi tentang promosi (actie) dari berbagai macam kategori

Tambahan: silakan juga cari di google, misalnya: http://bit.ly/CwFfC

Jangan lupa juga, di milis student sering muncul tawaran barang-barang yang harganya miring. Di Eindhoven, misalnya bisa dilihat di: http://listserver.tue.nl/mailman/private/isn/

Tambahan-tambahan lain yang tidak termasuk dalam kategori di atas:

  1. Toko spesialis barang bekas: http://www.hetgoed.nl (info dari Dina).
  2. Kembali ke jaman sebelum uang dipakai, lakukan barter :) http://www.ruilen.nl/
  3. Website tawaran barang diskonan yang berlaku hanya sehari: http://www.ibood.com/nl/ , http://www.onedayonly.nl/ (saya belum pernah order dari sini, ada yang bisa berbagi pengalaman?)

    Ada yang bisa menambahkan informasi yang lain? Siapa tahu mencakup beberapa barang yang saya masih harus cari :) Nanti saya tambahkan di notes ini.

Note dari Admin PPI Delft: “Jika ada yg ingin menambahkan/ memberi feedback, dapat datang di link berikut ini”

http://www.facebook.com/note.php?note_id=127933305624

Jun 09

Laporan KOPI Delft 10: PEMERIKSAAN FORENSIK POLRI: Pengetahuan untuk menyingkap kebenaran

Aktifitas PPI, Artikel, KOPI Delft Tidak ada komentar »

Forensik tidak hanya identik dengan bedah mayat. Demikian disampaikan Ahmad Fadilan, tenaga pemeriksa di instansi Laboratorium Forensik Bareskrim POLRI mengenai opini umum masyarakat terhadap forensik dalam acara Kolokium PPI Delft 10 (KOPI Delft 10).

“Salah satu tugas Laboraturium Forensik Kepolisian Republik Indonesia (Labfor Polri) adalah memasyarakatkan forensik dan memforensikkan masyarakat” demikian menurut AKP Ahmad Fadillan ketika beliau ditanya mengapa beliau mau memberikan materi mengenai Labfor Polri dalam forum kolokium PPI Delft yang rutin diadakan oleh perhimpunan mahasiswa Indonesia di Delft.

Penjelasan mengenai Labfor Polri pun disampaikan dengan bahasa yang ringan yang dimengerti seluruh audiensi PPI Delft. Dalam penjelasannya Ahmad Fadillan menyatakan bahwa bidang penyelidikan forensik diantaranya melingkupi bidang fisika dan instrumentasi misalnya untuk menyelidiki kebakaran, dokumen palsu, balistik metalurgi. Bidang kimbiotoks (kimia biologi dan toksikologi) yang diantara tugas nya adalah melakukan analisa toksikologi serta kasus-kasus narkoba.

‘Apakah tersangka bisa mengcounter pemeriksaan uji forensik dengan uji ulang oleh institusi lain?’ demikian pertanyaan dari Prapto, mahasiswa Management of Technology TU Delft. Pembicara menyatakan bahwa hal itu mungkin saja dilakukan, terutama apabila sudah sampai tahap pengadilan dan tersangka yakin tidak bersalah. Salah satu laboraturium yang disarankan adalah BNN. Namun permasalah nya terletak pada sampel, karena sampel cairan tubuh manusia (darah ataupun urin) hanya bisa bertahan 3-7 hari saja untuk dapat dianalisa.

Dalam kesempatan ini Fadilan juga menegaskan bahwa kesadaran hukum masyarakat Indonesia masih sangat lemah. Beliau mencontohkan apabila seseorang tertangkap dan terbukti positif mengkonsumsi narkoba sedangkan orang itu yakin tidak menyentuh zat adiktif tersebut, maka dia harus meminta bukti valid seperti bukti berita acara dan bukti penerimaan sampel oleh Labfor. Namun beliau juga mengakui bahwa kesadaran hukum masyarakat tidak bisa dihadirkan satu arah dengan keinginan dari masyarakat sendiri. Labfor Polri sendiri juga harus menyebarluaskan informasi mengenai bagaimana proses forensik dilakukan serta transparansi hasil penyelidikan.

Kolokium sore itu ditutup dengan presentasi mengenai forensik balistik, Fadilan menunjukkan bagaimana Labfor Polri berhasil memecahkan kasus seperti bom Bali 1 dan 2 dan juga bom JW Marriot. Selain itu dijelaskan juga bahwa bom yang dibuat oleh teroris di Indonesia dihasilkan melalui bahan-bahan sederhana yang bisa didapatkan melalui toko penjual bahan kimia di Indonesia.

May 26

Undangan KOPI Delft 10

Aktifitas PPI, Artikel, KOPI Delft Tidak ada komentar »

Pada Kopi Delft ke-10, PPI Delft mendapat kesempatan untuk berbagi mengenai pemeriksaan forensik POLRI pada:
Hari: Jum’at, 29 Mei 2009
Jam: 16.00 s/d 18.00 CET
Tempat: Ruangan 2.02, CiTG

Pembicara adalah tenaga Pemeriksa di instansi Laboratorium Forensik Bareskrim POLRI.

Nama : Ahmad Fadilan, SSi., MSi.

Pangkat / NRP : AKP / 78020926

Jabatan terakhir : Panit Kimbiotoksfor Labfor Bareskrim Polri Cab. Plg.

Pengalaman dinas : 5 (lima) tahun di Labfor Bareskrim Polri

Aktivitas terakhir : Partisipan Program Double Degree ILDM Bappenas-NESO, UNSRI - UNESCO-IHE

Kontak : (e-mail) ellands_dw@yahoo.com

ABSTAKSI: PEMERIKSAAN FORENSIK POLRI

Tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban umat manusia yang terus berkembang telah menghantarkan semua elemen mesyarakat semakin terbuka dan melek iptek serta sadar hukum dan aturan. Era reformasi yang telah bergulir lebih dari satu dasawarsa juga telah menghantarkan organisasi POLRI mereformasi dirinya, berubah menjadi institusi sipil yang profesional dan lebih humanis. Dengan menjadi satu-satunya lembaga yang berwenang dan bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban dalam negeri, pelindung serta pengayom masyarakat, dan sebagai aparat negara penegak hukum, maka POLRI telah banyak melakukan langkah maju, terutama dalam hal yang berhubungan dengan proses penyelidikan dan penyidikan dalam suatu persoalan hukum atau perkara kriminal, dimana peran proses penyidikan ilmiah (Scientific Crime Investigation) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam mekanisme dan kinerja POLRI dewasa ini. Tidak tanggung-tanggung, tercatat lumayan banyak kasus-kasus besar yang berhasil terungkap berkat proses sains ini. Apa, bagaimana, seperti apa mekanismenya dan siapa yang ada dibalik peran ini?

Lembaga Laboratorium Kriminal Forensik POLRI sesungguhnya sudah cukup lama berdiri. Namun demikian, selama ini istilah forensik hanya identik dengan pemeriksaan terhadap mayat, sehingga kebanyakan masyarakat awam berfikir bahwa pemeriksaan forensik yang dilakukan dalam proses penyidikan oleh instansi Polri hanya untuk kasus-kasus yang berhubungan dengan sebab musabab suatu kematian. Pemahaman ini tidak seluruhnya benar, karena faktanya bahwa pada saat ini, untuk seluruh kasus dugaan tindak pidana maupun perdata, dalam proses penyidikan maupun penyelidikannya melibatkan pemeriksaan secara teknik kriminalistik di Laboratorium Forensik POLRI. Bahkan, sebagian besar masyarakat awam belum mengetahui bahwasanya lembaga Laboratorium Forensik POLRI juga menyediakan jasa pemeriksaan yang bersifat non-pro-justisia, atau pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan dan atas permintaan serta untuk kepentingan masyarakat, dan bukan hanya untuk kepentingan suatu perkara kriminal.

Dengan modal SDM pemeriksa forensik yang mempunyai keahlian masing-masing yang bersifat khusus di bidangnya, dan didukung oleh peralatan pemeriksaan yang berbasiskan teknologi terkini, serta perangkat lunak berupa sistem perundangan, manajemen internal, tupoksi, perkembangan metode pemeriksaan ilmiah dan teknologi terkini serta kerjasama dan link dengan instansi terkait, maka sudah selayaknya semua elemen masyarakat mengetahui atau minimal mengenal lembaga yang satu ini. Tidak hanya untuk antisipasi apabila kebetulan mempunyai persoalan yang terkait dengan persoalan hukum dan kewenangan penyidikan POLRI, tetapi juga untuk kepentingan lainnya yang bersifat umum dan lebih luas dalam kehidupan sehari-hari (misalnya bisnis).

Dalam kesempatan yang terbatas ini, pembicara akan memperkenalkan mahluk apa yang namanya Labfor Polri itu, mulai dari sisi eksistensi organisasinya, kemampuan dan bidang pemeriksaan yang menjadi keahlian dan kewenangannya, sampai kepada pengenalan tentang sistem peradilan kriminal di Indonesia dan hubungan dengan hak dan kewajiban setiap kita sebagai warga negara yang mempunyai kesamaan kedudukannya di hadapan hukum dan peraturan perundangan. Semoga dengan meluangkan sedikit waktu kita bersama-sama bisa saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan wawasan. (Serta, satu lagi, agar tidak menjadi ’korban’ konspirasi aparat hukum yang mungkin saja ’nakal’, dikarenakan ketidaktahuan kita akan hak dan kewajiban kita dalam proses hukum, hehehe, yang ini bonus saja!).

May 17

Laporan Pandangan Mata Kopi Delft 9

Aktifitas PPI, Artikel, KOPI Delft Tidak ada komentar »

Laporan Pandangan Mata Kolokium PPI Delft (KopiDelft)

Jumat, 8 mei 2009

16.00-18.00

Ruang J, Fakultas 3ME

Mekelweg 2, 2628CD

Delft

oleh Saputra

Proyek Nano-Satelit Mahasiswa Indonesia: Sebuah Visi, Ambisi dan Tantangan

Delfi-C3 yang berhasil diluncurkan pada tahun 2008 lalu adalah nanosatelit pertama buatan mahasiswa Belanda yang berhasil mengorbit bumi. Demikian diungkapkan Dwi Hartanto pada Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) yang rutin diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda, Jumat lalu. Dalam presentasinya, Dwi yang sedang menyusun tesis Masternya pada jurusan computer engineering Universitas Teknologi Delft (TU Delft), Belanda ini, memaparkan riset pembuatan nanosatelit, mulai dari desain, fitur-fitur yang disyaratkan, serta misi peluncurannya. Meski diklaim sebagai satelit buatan mahasiswa, kesuksesan Delfi-C3 tidak terlepas dari andil pemerintah dan industri yang cukup besar. Hal yang wajar dilakukan di negara maju, mengingat dunia riset memang semestinya terbangun oleh tiga pilar besar, yaitu institusi pendidikan, pemerintah, serta industri. Suatu hal yang kini tengah dirintis di Negara kita. Saat ini, Dwi sendiri tengah terlibat secara aktif dalam proyek pembuatan nanosatelit generasi berikutnya, juga oleh mahasiswa TU Delft. Nanosatelit generasi berikutnya ini dinamakan Delfi-n3Xt, dan dijadwalkan akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2010.

Pada kesempataan itu pula, kolega Dwi, Aryo Primagati yang saat ini bekerja sebagai insinyur telekomunikasi pada ISIS (Innovative Solutions In Space), sebuah perusahaan kecil yang didirikan alumni TU Delft yang pernah terlibat pada proyek nanosatelit Delfi-C3, mengatakan bahwa riset pembuatan nanosatelit sangat cocok dijadikan proyek penelitian dalam skala universitas. Selain desain yang lebih sederhana pada ukuran yang lebih kecil, dana yang dibutuhkan juga jauh lebih kecil dibandingkan satelit konvensional. Sekedar perbandingan, Aryo mengatakan bahwa untuk membangun dan meluncurkan sebuah satelit normal diperlukan biaya jutaan Euro (puluhan hingga ratusan miliar rupiah) dengan waktu pengembangan 5-10 tahun. Sedangkan untuk nano-satelit, seperti Delfi C3 atau Delfi-n3Xt, hanya diperlukan waktu satu sampai dua tahun pengembangan dengan biaya sekitar 100 sampai 200 ribu Euro (sekitar 1,5 sampai 3 Milyar Rupiah).

Pada akhir sesi presentasi KOPI Delft kali ini, Dedy Wicaksono, peneliti pasca-doktoral di TU Delft, memaparkan visi dan ambisi mereka bersama untuk menggagas sebuah proyek nanosatelit untuk mahasiswa Indonesia yang diberi nama INSPIRE (Indonesian Nano-Satellite Platform Initiative for Research and Education). Mengingat, sebenarnya Indonesia telah merintis dunia riset antariksa sejak dekade 60an. Ide yang dibawa oleh Dedy bersama koleganya adalah membuat suatu konsorsium yang terdiri dari berbagai universitas di Indonesia, lembaga-lembaga penelitian pemerintah dan tentunya rekanan dari dunia industri sebagai sponsor pendanaan. Diskusi menjadi hangat ketika seorang peserta diskusi menanyakan misi dan manfaat yang bisa diambil dari proyek nano-satelit ini selain nilai prestise dan gengsi semata. Masalah akses pendanaan yang bakal menjadi hambatan pun menjadi perhatian sejumlah peserta diskusi lainnya. Merespons dua pertanyaan tersebut, dengan diplomatis Dedy menjawab bahwa nanosatelit adalah sebuah platform teknologi yang dapat dipakai untuk berbagai macam aplikasi kebutuhan, bahkan misi yang sifatnya komersial sekalipun. Untuk peluncuran pertama kiranya akan sangat berat untuk mensyaratkan misi yang sulit atau yang bersifat komersial, terlebih tujuan utamanya adalah untuk riset dan edukasi serta peningkatan kepercayaan diri bangsa. Senada dengan Dedy, Aryo pun menilai misi peluncuran INSPIRE 1 hendaknya tidak terlalu mensyaratkan misi yang terlampau sulit. Pada kenyataannya, selain sebagai satelit komunikasi radio amatir, misi Delfi-C3 yang utama adalah sebagai technology demonstration and development. Mengenai masalah pendanaan, kiranya perlu dicari solusi yang terbaik. Salah satu yang sudah direncanakan adalah mengajukan proposal proyek INSPIRE ke berbagai pihak terkait di tanah air.

Masalah klasik, pendanaan disinyalir akan menjadi masalah serius terlaksananya visi proyek INSPIRE ini. Belum adanya sinergi antara universitas, lembaga penelitian pemerintah seperti LIPI, LAPAN, BATAN, serta dunia industri, adalah hambatan terbesar laju riset di tanah air. Dalih keterbatasan dana dan anggaran sebenarnya tidak perlu ada, jika saja semua pihak yang berkepentingan dapat ‘duduk’ bersama, merumuskan dan membuat langkah kongkrit inisiatif proyek bersama demi kemajuan bangsa. Jika dana yang terbatas tersebut digabungkan dalam sebuah proyek riset bersama, bukan tidak mungkin riset unggulan yang laik disejajarkan dengan riset universitas negara-negara maju di dunia dapat dilaksanakan.

Acara Kolokium PPI Delft atau sering disingkat KOPI Delft ini, adalah acara rutin dwi mingguan yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda. Arsip KoPI Delft dapat dibaca di http://kopidelft. ppidelft. net

May 12

Akomodasi di Delft (Shortstay vs Longstay DUWO)

Artikel, Informasi, Umum 1 Komentar »

Artikel berikut ini mengenai akomodasi di Delft, terutama mengenai DUWO Shortstay dan DUWO Longstay. DUWO Shortstay merupakan perusahaan yang ditunjuk oleh TU Delft untuk menangani urusan akomodasi mahasiswa international (kebanyakan S2). Umumnya mahasiswa baru TU Delft yang menyerahkan masalah akomodasi ke TU Delft akan diteruskan ke DUWO ShortStay. Selain DUWO Shortstay, ada lagi perusahaan DUWO Longstay (yang harga kamarnya secara umum lebih murah). Perbedaan mengenai kedua perusahaan akan dikupas tuntas di artikel ini.

Artikel berikut ini ditulis oleh Velly, MOT 2008. 

***

Mungkin banyak yang merasa tinggal di shortstay housingnya DUWO kemahalan, apalagi dengan harga yg bakal naik lagi tahun ajaran depan. tadi saya iseng2 bukan website DUWO dan saya nemu list kamar kosong di Longstay housingnya DUWO (http://www.duwo. nl/smartsite. dws?ch=ENG&id=123&aanbodcode=AANBODDE LFT&style=1&soort=Alle). mungkin ada yg minat buat ikutan instemming dan merayu2 tenants yg lama?

 

sejauh yang saya tau, DUWO ada dua tipe housing. shortstay dan longstay.

 

shortstay housing

ini housing standar buat mahasiswa internasional yg baru datang ke delft ini. saya rasa hampir semua kita pertama kali datang dikasih kamar di roland holstlaan atau spaceboxes/containe r. kamar-kamar ini relatif nyaman sekali buat kita yang baru datang. semua serba ada siap dipakai. furnitur lengkap, sampai ke sarung bantal, gelas dan piring. saya ketika baru datang benar2 merasa beruntung karena tidak perlu repot2 cari rumah spt beberapa rekan yg kuliah ke kota lain di belanda ini. 

setelah beberapa bulan di belanda saya baru sadar bahwa harga yang dipasang buat shortstay housing ini diatas rata2 housing2 lainnya. awalnya saya pikir karena pemerintah belanda memang kasih rumah murah buat mahasiswa belanda, dan yah.. meski rada dongkol tapi kebijakan ini masuk akal. tapi lalu saya nemu ada mahasiswa indonesia yang juga dapat rumah murah. saya mulai bertanya2 bagaimana cara mendapatkan kamar seperti ini. lalu saya nemu info ttg duwo longstay housing

 

longstay housing

beberapa housing permanen yg ada di lingkungan tudelft ini ternyata punya DUWO juga, seperti Balthazar van der Polweg (Balpol) yang diatas kanal itu, dan gedung korvezeestraat yang ada dibelakang EWI. enak kan tinggal di gedung beneran dan bukan kontainer2 spt spacebox? saya cari info dan ada beberapa info menarik yang saya temukan ttg longstay housing ini.

1.         harganya murah. kisarannya antara 200-250 eur sebulan perkamar. ada yang satu apartemen sharing bersama 2-3 orang, tapi yang di korvezeestraat saya tau bisa tinggal sendiri. 

2.        rata2 energy dan water itu diluar harga kamar. sistem penghitungannya beda ama cara di indonesia yang ngitung tiap bulan trus ditagih per pemakaian per bulan. disini harga yang kita bayar sama tiap bulan, tapi nanti diakhir tahun dihitung oleh si PLN dan PAM nya sini besar pemakaian kita selama setahun. kalo kita foya2 dan make lebih dr yg dibayar, kita bakal diminta tambah bayar dan tagihan bulanan mulai tahun depannya dinaikkan sesuai dengan rata2 pemakaian kita tahun ini. begitu juga sebaliknya, klo makenya hemat, maka uang kita dibalikin dan tahun depan tagihan bulanannya bisa menurun. rata2 household dengan 2 orang di belanda ini bayar 150-200 perbulan (katanya). tapi bagi kita orang indonesia yang rela susah (hehehe) pake listrik dan air bisa dihemat2 dikit hingga cuma bayar 120 eur an perbulan per rumah.

3.        mungkin ada yang ngerasa, males  ah tinggal di longstay housing gini, soalnya harus beli furnitur. menurut saya klo dipikir2 klo di hitung selisih kita bayar sewa furnitur di shortstay dengan klo kita beli sepaket furnitur sekali (dengan catatan furniturnya bukan yg mewah2), lebih untung beli furnitur, dan furnitur ini bisa dijual lg nanti klo mau pindah ke indonesia. selain itu furnitur kadang gak perlu beli baru, bisa dapet lungsuran atau dpt gratis/murah di marktplaats. bisa juga ambil furnitur yang udah dibuang di pinggir jalan. hehehehe… sungguh, gak perlu gengsi ambil barang buangan pinggir jalan disini krn kadang2 barang2 itu masih sangat sangat layak untuk dipakai (paling hanya perlu di bersihkan saja)

4.        beberapa kamar bisa mendapatkan huurtoeslag. ini yang saya liat banyak mhs indonesia yang tidak tau atau agak simpang siur informasinya. saya tadi tanya langsung ke duwo mengenai huurtoeslag ini, jadi saya ada sedikit info valid. Huurtoeslag ini adalah tunjangan rumah buat orang2 yang penghasilannya dibawah  standar. ada sitenya di http://www.toeslage n.nl/ tapi dalam bahasa belanda, mungkin bisa pake tools penterjemah buat bacanya, atau minta tolong temen yg bisa bahasa belanda. intinya, yang namanya toeslag itu adalah semacam allowance bagi orang2 yg penghasilannya dibawah standar. uang kita akan dibalikin tiap bulan sesuai tunjangan yang kita dapat. besarnya tunjangan bisa hingga max 300 eur perbulan per rumah (bukan perkamar atau perkepala) tergantung harga sewa dan penghasilan kita. dulu mahasiswa internasional gak bisa dpt tuslag ini, tapi beberapa th yll kebijakannya berubah, dan mhs internasional bisa dpt. huurtoeslag ini berlaku untuk rumah, bukan perkamar. dan ada syarat2nya, bisa diliat di : http://www.toeslage n.nl/particulier /huurtoeslag2008 /huurtoeslag2008 -01.html# P19_1037. bisa tanya duwo apakah housing kita masuk eligible untuk huurtoeslag atau tidak. yang pasti untuk semua shortstay, itu tidak dpt huurtoeslag krn menurut hitungan dr duwo, semuanya sudah inclusive dan plus furnitur. jadi klo di potong2 semuanya, sebenarnya harga sewa shortstays itu saja tanpa apa2 dibawah 200.70 eur sebulan dan tidak berhak dpt huurtoeslag. begitu. jika dapet rumah yg ada huurtoeslagnya, itu untung bgt, sebulan bisa bayar kira2 cuma 180-200 eur . tergantung gede huurtoeslagnya. beasiswa itu tidak termasuk income yg kena pajak dan tidak masuk hitungan di huurtoeslag, jadi sesungguhnya mahasiswa berbeasiswa itu adalah mahasiswa berpenghasilan nol, jadi layak dikasih potongan harga rumah. 

5.        longstay itu sistem bayar2nya lumayan fair. jadi kita bayar jasa perbaikan tiap bulan dan klo ada kerusakan kita bisa panggil service tanpa bayar lg. cuma klo dlm setahun kita gak punya komplain berarti dan gak ada perbaikan, uang service yg kita bayar dulu bisa balik ke kita lg. lumayan lah dikit. ini jg berlaku sebaliknya, klo kerjaan kita hari2an mecahin jendela ya diakhir tahun kita ditagih tambahan biaya.

Sekian sekilas info dr saya ttg housing di seputaran kampus delft ini. memang spesifik ke rumah2 duwo sih, soalnya ya saya kebetulan akhir2 ini nyari infonya seputaran rumah duwo. mungkin mahasiswa2 lain yg udah lama disini dan lebih paham sistem housing belanda bisa nambahin (atau koreksi klo saya ada yg salah info). 

 

Apr 28

Laporan Pandangan Mata Kolokium PPI Delft (KopiDelft) 8

Aktifitas PPI, Artikel, Informasi, KOPI Delft Tidak ada komentar »

Laporan Pandangan Mata Kolokium PPI Delft (KopiDelft)

Jumat, 24 April 2009

16.00-18.00

Ruang CiTG 4.02

Stevinweg 1, 2628 CN

Delft

oleh Dedy H.B. Wicaksono

Dilema lulusan Perguruan Tinggi di Luar Negeri: Antara pulang ke tanah air dengan bekerja di luar negeri

Para mahasiswa Indonesia yang kini tengah melanjutkan studinya, baik dalam tingkatan S-1 (Sarjana), maupun pasca sarjana (S2, dan S-3), tidak selalu harus langsung pulang kembali ke Indonesia, setelah kelulusan mereka dari studinya. Demikian dikatakan Dr. ir. Kamarza Mulia dalam kesempatan kolokium Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft (KoPI Delft) yang diselenggarakan beberapa hari lalu, bertempat di gedung fakultas Sipil dan Ilmu Kebumian, Universitas Teknologi Delft (TU Delft).

Dr. Kamarza yang kini melakukan riset post-doktoralnya di Departemen Prosses dan Energi TU Delft ini juga berpendapat bahwa selama masa studinya, para mahasiswa kita juga mesti giat membangun jejaring baik dengan sesama pelajar/mahasiswa Indonesia di Luar Negeri, maupun dengan pihak-pihak yang terkait dengan bidangnya di tempat dia belajar. “TGALNG – Think Globally, Act Locally, Network Globally”, demikian semboyan yang dipromosikan Dr. Kamarza pada kesempatan KoPI Delft Jumat 24 April lalu.

Untuk menguatkan proposisinya akan pentingnya TGALNG dalam penguatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia untuk kemajuan Indonesia sendiri, Kamarza mengemukakan ‘coklat’ sebagai salah satu contoh kasus. Saat ini komoditas coklat produksi Indonesia hanya diekspor sebagai produk mentah dengan harga yang sangat murah. Sementara, coklat olahan yang berharga lebih mahal, belum dapat diekspor oleh Indonesia, di samping karena keterbatasan teknologi pengolahan yang dimiliki Indonesia, juga karena proteksi oleh negara-negara Eropa, misalnya, yang menerapkan bea masuk yang tinggi untuk produk olahan coklat. Di sini, sebenarnya, para pelajar Indonesia yang tengah berada di Eropa dapat mulai ‘bergerilya’ menjalin jejaring dengan pihak-pihak terkait di Eropa, untuk merintis kerjasama teknologi maupun bisnis ekspor-impor produk coklat olahan dari Indonesia ke Eropa.

Selain itu perguruan-perguruan tinggi di Eropa tempat para pelajar Indonesia menuntut ilmu, sebenarnya merupakan perguruan tinggi unggulan yang sumber dayanya mesti dimanfaatkan para pelajar ini dalam menjalin jejaring sejak masa studi mereka. Kamarza, yang juga adalah staf departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia ini, mencontohkan TU Delft, misalnya, yang berdasarkan data, alumninya telah mendirikan 3874 perusahaan berbasis sains dan teknologi dalam kurun waktu 1985 – 1999. Sekalipun pada akhirnya tidak semua perusahaan tersebut bertahan hingga kini, namun hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara alumni dengan alma maternya. Keterkaitan erat ini menyebabkan hasil penelitian dan kerja di TU Delft termanfaatkan secara nyata dan komersial, tidak sekedar berhenti hanya sebagai tesis dan disertasi.

Dalam hal peningkatan kualitas pelajar/mahasiswa lewat perguruan tinggi tempat mereka belajar, Kamarza juga menekankan pentingnya aspek kecakapan proses, di samping kecakapan teknis. Kecakapan proses ini misalnya adalah kemampuan lulusan perguruan tinggi tersebut dalam berkomunikasi secara efektif, serta kemampuannya untuk beradaptasi dan meningkatkan kapasitas dirinya untuk pencapaian yang lebih besar. Saat ini berbagai institusi atau usaha baik dalam maupun luar negeri telah secara eksplisit mencantumkan persyaratan-persyaratan proses ini. Universitas Indonesia sebagai instansi Kamarza sendiri mencantumkan pengabdian masyarakat sebagai salah satu kriteria lulusannya. Demikian pula dengan sertifikasi ABET bagi perguruan tinggi bidang teknik, juga mencantumkan syarat kecakapan proses pada lulusan. Sementara di dunia bisnis, SHELL, misalnya, mencantumkan persyaratan keahlian komunikasi, peningkatan kapasistas diri, di samping persyaratan teknis, untuk rekrutmen tenaga kerjanya.

Dengan adanya kondisi seperti yang diterangkan di atas, Kamarza mengusulkan agar para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kini tengah menjalani studinya di luar negeri, memiliki kurikulum pengembangan diri yang terencana dan jelas.

Sebagai contoh, Kamarza menjelaskan bila seseorang ingin berkarir di bidang akademik atau penelitian, maka kurikulum ini berupa perjalanan karir saat menjalani studi doktoral, kemudian pasca-doktoral (post-doctoral), kemudian aktifitas litbang di perguruan tinggi, atau di perusahaan, dengan puncaknya berupa menjalani aktifitas riset yang mandiri. Pada tiap tahapan ini, orang yang bersangkutan mesti memiliki target capaian yang jelas. Misalnya saat pendidikan doktoral, dan riset pasca-doktoral digunakan untuk mengumpulkan pencapaian berupa kertas ilmiah di jurnal-jurnal maupun konferensi ilmiah. Saat menjalani aktifitas riset di dunia akademik ataupun dunia usaha, bagaimana kita dapat mengumpulkan keahlian memecahkan masalah serta keahlian dalam berinteraksi dengan orang lain, serta mulai membangun jejaring dengan berbagai pihak. Dan dalam setiap tahapan ini, kita dapat memilih apakah berada pada satu perusahaan/universitas yang sama, atau berpindah ke negara yang lain, atau di Indonesia, atau malah mendirikan usaha sendiri. Jenjang serupa dapat direncanakan pula bagi mereka yang merencanakan karirnya sebagai profesional di bidangnya masing-masing.

Menurut Kamarza, setelah menjalani proses penempaan melalui kurikulum pribadi ini, diharapkan pada saatnya, orang-orang tersebut mencapai tingkat kemapanan tertentu. Ketika mereka pulang ke tanah air, mereka pun dapat mengangkat rekan-rekan di sekitarnya.

Melihat potensi pelajar dan mahasiswa Indonesia saat ini yang tersebar di berbagai negara, Kamarza berharap bahwa di tahun 2025, Indonesia akan mulai meraup buahnya, berupa tumbuhnya perusahaan-perusahaan kecil menengah berbasis sains dan teknologi. Kamarza membandingkannya dengan Taiwan yang di tahun 1980-an dan 1990-an memiliki banyak mahasiswa doktoral di luar negeri, dan kini menikmati pertumbuhan ekonomi dengan tumbuhnya industri bernilai tambah tinggi.

Menutup uraiannya sore itu, Kamarza menilai bahwa kontribusi membangun tanah air dapat dilakukan baik dengan bekerja di luar negeri, maupun dengan pulang kembali untuk bekerja di dalam negeri.

Uraian Dr. Kamarza diikuti dengan sesi tanya jawab yang cukup hangat dengan segenap partisipan KoPI Delft sore itu.

Duddy Ranawijaya, salah seorang partisipan KoPI Delft sore itu, yang juga adalah mahasiswa S-3 jurusan Geologi TU Delft, beranggapan bahwa jalur karir yang diusulkan Kamarza terlalu lurus. “Pada praktiknya, karir kita justru dipenuhi kegagalan, dan tak mungkin selurus semulus itu”, demikian tandas Duddy, yang di Indonesia adalah staf Puslitbang Geologi Kelautan, Departemen Energi Sumber Daya Mineral.

Menjawab hal ini, Kamarza mengemukakan bahwa memang model karir yang ia usulkan tidaklah selurus apa yang terlihat. Saat seseorang menjalani aktivitas riset atau aktivitas profesional lapangan, di mana ia harus menempa kemampuan pemecahan masalahnya, tentu saja ini adalah suatu siklus kegagalan dan keberhasilan. Menurut Kamarza, seseorang yang hebat adalah ia yang tahu sampai di mana dirinya tahu, dan tahu pula sampai di mana ia tidak tahu.

Tanggapan berikutnya datang dari Yugi Sukriana, ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Delft, yang juga adalah mahasiswa S-2 di jurusan Analisis Kebijakan Teknis TU Delft. Yugi menyampaikan pendapat mantan penasihat presiden Clinton, yang beranggapan bahwa pendidikan di negara berkembang bukannya malah menjadi Way-Up (jalan menuju keberhasilan), tetapi justru menjadi Way-Out (jalan lari), atau larinya SDM unggul dari negara-negara tersebut.

Sementara Gea Parikesit, salah seorang peneliti pasca-doktoral di TU Delft, memiliki pendapat yang sedikit berbeda dengan Kamarza. Menurut Gea, semakin lama seseorang berada di Luar Negeri, akan semakin susah baginya untuk pulang kembali ke Indonesia untuk dapat berkontribusi langsung. Hal ini disebabkan kemampuan teknisnya yang lebih terbiasa menyelesaikan masalah di Eropa, misalnya, ketimbang masalah Indonesia.

Salah seorang karya siswa Perusahaan Listrik Negara (PLN) di TU Delft, Dwi Hartono, menyampaikan perbincangannya dengan seorang mahasiswa Ethiopia di TU Delft. Menurutnya, negara maju, seperti Belanda, sengaja memberikan ‘perangkap’ beasiswa untuk membiayai SDM-SDM unggulan negara berkembang untuk berkarya di negara-negara maju tersebut.

Menjawab tanggapan-tanggapan kritis ini, Kamarza memang tidak memberikan suatu alternatif solusi atau tanggapan yang pasti. “It’s life!” jawab Kamarza secara singkat.

“Bagaimana kalau bidang yang kita pelajari tidak ada di Indonesia?” demikian Wuri Nastiti, seorang mahasiswa S-2 departemen arsitektur TU Delft yang akan segera merampungkan studinya tahun ini menyampaikan uneg-unegnya.

Kamarza menjawab bahwa tidak mesti apa yang kita lakukan nanti di Indonesia harus selalu sama dengan yang tengah kita lakukan di Luar Negeri saat ini. Pada dasarnya, pendidikan tinggi menyiapkan kita untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving) sesuai dengan kondisi masalah tersebut, demikian Kamarza meyakinkan Wuri dan partisipan KoPI Delft lainnya.

Marwan Wirianto, mahasiswa doktoral yang ‘bebas’ menyampaikan pertanyaannya terkait dengan kemampuan skill apa yang perlu dipersiapkan untuk dimiliki. Partisipan KoPI Delft lainnya, Hadiyanto, periset pasca doktoral yang juga staf Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, menjawab bahwa mahasiswa Indonesia perlu mengembangkan Unique Selling Point- (USP)-nya masing-masing. Artinya, kemampuan unik yang dapat ia tawarkan atau sumbangkan di kemudian hari untuk pemecahan masalah sebagai peneliti atau pun sebagai profesional.

Menutup diskusi yang hangat pada sesi KoPI Delft kali ini, Kamarza mengumpamakan perantauan para mahasiswa Indonesia di luar negeri ini layaknya seorang calon pendekar yang tengah merantau dari satu perguruan silat ke perguruan silat yang lain. Suatu saat nanti, ketika benar-benar menjadi pendekar, barulah ilmu atau kecakapan yang didapat dari berbagai tempat tadi akan diketahui manfaat dan kegunaannya. Karena itu, ke mana pun jalur karir yang dipilih, apakah pulang balik ke tanah air, atau pun meneruskan karir dengan bekerja di luar negeri, semua memiliki aspek kelebihan dan kekurangan. “Setiap pilihan memiliki paketnya masing-masing,” tutur Kamarza menutup diskusi di sore yang hangat itu.

KoPI Delft adalah acara kolokium dwi-mingguan yang diselenggarakan PPI Delft sebagai sarana berbagi pengalaman di antara anggotanya, dikaitkan dengan konteks keindonesiaan.

Feb 14

Aplikasi Statistik Permudah Perawatan Kabel Listrik Bawah Tanah

Artikel, Event, Informasi Tidak ada komentar »

Pak Edi mempresentasikan penelitiannya (Kredit foto: Baqir)

“Dengan menggunakan pemodelan statistik, data-data pengukuran Partial Discharge (PD) pada kabel listrik tegangan menengah, dapat digunakan untuk memperkirakan umur kabel, dan kapan kabel tersebut dapat diganti”, demikian tegas Edy Mu’tasim Billah dalam presentasi penelitian tesis kelulusan master-nya di TU Delft Senin, 9 Februari 2009.

Partial Discharge (PD) sendiri adalah fenomena ketika terjadi kerusakan lokal pada insulasi kabel ketika kabel diberikan stress berupa tegangan tinggi tertentu.Tujuan Penelitian Edy sendiri adalah untuk menganalisis data PD dari lapangan, dan memecahkan masalah pengukuran PD yang kurang baik. Problem-problem yang dihadapi dalam transfer data pengukuran PD saat ini adalah antara lain kurangnya data yang diambil atau dicatat sehingga tidak cukup untuk analisis statistik, serta tipe-tipe komponen (kabel) yang belum didefinisikan secara jelas.

Edy Mu’tasim Billah, yang juga adalah karyawan BUMN PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengusulkan suatu prosedur untuk mentransformasikan data pengukuran PD menjadi informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan untuk manajemen aset perusahaan utilitas listrik. Dalam hal ini aset yang ditinjau adalah kabel listrik untuk tegangan menengah (20 kV).

Dari informasi diagnostik yang didapat dari data lapangan, Edy Billah mengusulkan pendekatan statistik untuk pengklasifikasian status kondisi aset kabel listrik. Ada tiga kategori yang diusulkan Edy Billah: “masih baru”, “tua”, “amat tua”.

Data PD yang didapat di lapangan di-fit-kan dengan suatu model distribusi statistik, dan dari situ dilakukan klasifikasi kategori statusnya. Untuk evaluasi, jenis material kabel yang digunakan juga perlu diketahui, misalnya apakah termasuk kabel PILC (Paper-Insulated Lead Cable), ataukah jenis kabel XLPE (Cross-Linked PolyEthylene) ataukah jenis campuran. Demikian pula perlu didata ukuran terminasinya, sambungan, maupun insulasinya.

Pak Edi dan Professor J.J. Smit, pembimbing tesis (Kredit foto: Baqir)

Data kedua adalah data pengukuran PD itu sendiri, dengan melakukan tiga macam pembebanan tegangan tinggi: yang pertama sebesar tegangan nominal, yaitu tegangan operasional kabel itu; yang kedua dikenakan 1,7 kali besar tegangan nominal yang normal; dan tes pembebanan ketiga adalah pengenaan tegangan insepsi, yaitu tegangan maksimum saat mulai terjadinya kerusakan lokal pada insulasi.

Dari data-data ini, setelah dipaskan dengan model statistik yang dipilih, misalnya distribusi Weibull, didapatkan suatu angka index kondisi (Condition Index Value atau CI value) aset kabel terkait. EM Billah mengklasifikasikan menjadi tiga kelompok CI value: kelompok 9 untuk CI value 6,6 – 9; kelompok 6 untuk CI value 4.5 – 6; dan kelompok 1 untuk CI value 1- 4,2. Dari pengelompokan ini, dikirimkan lebih lanjut ke bagian perawatan aset (Asset Maintenance) untuk ditindaklanjuti. Misalnya kabel yang termasuk kelompok 1 sudah termasuk “sangat tua” dan perlu diganti.

Metode pengukuran PD yang dilakukan untuk klasifikasi aset yang diusulkan EM Billah bersifat off-line. Artinya saat pengukuran/pengujian kabel, jaringan listrik di daerah tersebut harus dimatikan untuk sesaat. Metode lain yang menurut Edy masih dalam tahap penelitian, adalah metode pengukuran PD secara on-line, tanpa perlu mematikan jaringan. Didik Dahlan, salah seorang rekan Edy Billah yang turut menghadiri presentasi penelitian Edy, mengatakan ada setidaknya tiga cara mengukur PD secara online: metode akustik (mendengar percikan listrik PD), metode optik (melihat terjadinya percikan saat PD), atau metode kimia (melihat misalnya perubahan pada minyak pelumas untuk insulasi trafo). Kekurangan metode online adalah besarnya derau (noise) serta masih bersifat kualitatif, sekedar tahu ada atau tidak ada PD. Salah seorang rekan karyasiswa PLN lain, Buyung Munir, yang juga baru mempertahankan tesis S2-nya, mengusulkan suatu algoritma yang dapat membedakan sinyal asli dari derau, serta menentukan letak PD secara spesifik pada metode pengukuran online ini.

Pengukuran PD pada kabel listrik bawah tanah secara off-line masih belum memiliki prosedur yang baku di dunia. Elpis Sinambela, yang mempertahankan tesisnya juga beberapa waktu yang lalu sebelum Edy, mengusulkan suatu prosedur baku untuk melakukan pengukuran PD secara off-line ini. Tesis Edy Billah memfokuskan pada analisis hasil pengukuran tersebut untuk pengambilan keputusan tahap berikutnya, yaitu Asset Management. Penelitian Elpis dan Edy memfokuskan pada kabel bawah tanah tegangan menengah 20 kV, untuk daerah regional dalam kota . Sedangkan penelitian Buyung Munir terfokus pada kabel bawah tanah untuk tegangan tinggi > 20 kV (High-voltage Cross Bonding), antara lain 70 kV, dan 150 kV. Kabel tegangan tinggi digunakan untuk distribusi dari pembangkit ke daerah-daerah konsumsi listrik.

Berfoto bersama dengan rekan-rekan PPI Delft selepas presentasi (Kredit foto: Baqir)

Sekalipun saat ini sebagian besar jaringan listrik PLN menggunakan kabel menggantung (overhead line) karena mahalnya instalasi kabel bawah tanah (10 kali lipat lebih mahal), namun Edy Billah, yang setelah pulang ke Indonesia ini akan bertugas di bagian perencanaan Jaringan Distribusi Jawa Barat, memperkirakan bahwa penggunaan kabel bawah tanah akan makin meningkat di masa depan, khususnya untuk kota-kota besar. Kabel bawah tanah, sekalipun instalasinya mahal memiliki keunggulan antara lain: lebih indah secara estetika, lebih aman (misalnya terhadap gangguan petir), serta lebih bebas dari gangguan (tersangkutnya layang-layang) bila dilakukan perawatan secara baik. Untuk itu, PLN sedari dini perlu memperhatikan pengambilan data secara terinci dari jaringan instalasi kabel bawah tanahnya, sehingga proses perawatan berbasis kondisi (condition-based management) dapat dilakukan. Perawatan berbasis kondisi, seperti pengukuran PD baik off-line maupun on-line, memungkinkan manajemen asset yang lebih hemat dan lebih terarah, dibandingkan perawatan berbasis waktu, di mana pemeriksaan dilakukan secara periodik pada semua bagian sistem. Demikian Edy menutup penjelasannya, yang juga di-amini Didik Dahlan, rekan karyasiswa PLN lainnya. (dw)

Baca pula liputan-liputannya di detikcom:

http://www.detiknews.com/read/2009/02/11/000532/1082856/10/aplikasi-statistik-permudah-perawatan-kabel-listrik-bawah-tanah

http://www.detiknews.com/read/2009/02/11/232849/1083509/10/pln-pengukuran-pd-lebih-hemat-dan-terarah

http://www.detiknews.com/read/2009/02/12/162321/1084027/10/jaringan-kabel-bawah-tanah-pln-lebih-rapi-dan-aman

http://www.detiknews.com/read/2009/02/12/171758/1084078/10/karyasiswa-di-luar-negeri-tingkatkan-performansi-pln

Jan 17

Persiapan Pulang ke Indonesia

Artikel 11 Komentar »

Oleh: Rizli Avriananda Anshari

Setelah menyelesaikan masa study di Belanda, ada beberapa hal yang harus diperhatikan menjelang kepulangan. Hal hal tersebut berkaitan dengan proses proses administratif yang sudah dilakukan ketika mendarat di Belanda untuk pertama kali.

1. Deregistrasi alamat dari Gementee setempat
Proses ini cukup mudah untuk dilakukan, cukup dengan datang ke Gementee kemudian mereka akan memberikan surat keterangan pindah dari Gementee ke Indonesia. Jika verblijf anda sudah habis masa berlakunya Gementee akan menyita Verblijf anda dan akan mengirimkannya ke IND.

2. Menutup rekening bank dan kartu kredit
Cukup datang ke Bank terdekat, kemudian mengisi form disertai dengan surat keterangan pindah dari Gementee. Namun untuk menutup kartu kredit, anda harus menelpon ke nomor tertentu. Hal ini dikarenakan proses administrasinya diurus oleh dua departemen yang berbeda.

3. Membatalkan kontrak telpon paskabayar
Bisa dilakukan dengan mengirimkan surat ke pihak provider telpon yang isinya menyatakan membatalkan kontrak dikarenakan pulang ke Indonesia. Sisipkan keterangan dari Gementee sebagai bukti. Ingat, lakukan proses ini 1 bulan sebelum tanggal kepulangan karena agak memakan waktu.

4. Pengiriman barang ke Indonesia
Ada berbagai cara untuk mengirim barang ke Indonesia, bisa menggunakan jasa dari TNT Post atau juga dengan menggunakan perusahaan ekspedisi kargo laut. Saya menggunakan cara kedua dengan menghubungi pihak IndoTurka.

Barang - barang yang akan dikirim di masukkan ke dalam Verhuisdoos yang biasa di beli dari Ikea, Gamma dan Kuantum. Disarankan untuk menggunakan kardus dari Gamma atau Kuantum karena lebih kuat. Biaya kirim perkardus untuk ke Jakarta sebesar 30 Euro. Bisa mendapatkan potongan harga jika ada surat keterangan dari KBRI.

Untuk informasi lebih lengkap silahkan lihat: http://www.indoturka.com

5. Lapor kepulangan ke KBRI
Jika anda telah melaporkan diri ke KBRI pada saat awal – awal kedatangan ke Belanda, diharapkan untuk melapor diri ke KBRI menjelang kepulangan.

6. Legalisasi Ijazah Bachelor/Master dari Belanda
Mungkin dari semua proses yang ada, ini adalah proses yang paling panjang dan memakan waktu. Ada tiga langkah yang harus dilakukan untuk melakukan proses legalisasi ijazah, yaitu:

a. IB-Groep
IB-Groep adalah badan yang mewakili kementerian pendidikan nasional belanda untuk melakukan legalisasi ijazah para pelajar di Belanda. Sayangnya IB-Groep terletak di Groningen yang sangat jauh dan makan waktu, apalagi dari Delft. Sebelum datang ke IB-Groep, anda diharuskan menghubungi mereka dahulu dan mem-fax fotokopi ijazah anda ke mereka. Kemudian setelah ijazah anda berhasil diverifikasi oleh pihak IB-Groep, anda bisa datang ke Groningen dengan membawa ijazah anda. Ijazah anda akan di cap oleh pihak IB-Groep. Anda bisa mengkopi ijazah anda untuk dilegalisasi tapi harus membayar 3 Euro per dokumennya dan ini belum termasuk biaya lainnya. Informasi lebih lanjut silahkan klik link berikut:
http://www.ib-groep.nl/InternationalVisitirs/Diploma_assessment/Going_abroad/s20_legalizing.asp

Kontak IB-Groep:
Kempkensberg 4, Groningen
+31 50 599 80

Pembayaran bisa menggunakan PIN atau Chipknip.

b. Departemen Luar Negeri Belanda (Ministerie van Buitenlandse Zaken)
Setelah mendapatkan cap legalisasi dari IB-Groep, pemegang ijazah harus memverifikasi ijazahnya ke kementerian luar negeri Belanda. Prosesnya jauh lebih mudah cukup datang ke alamat berikut ini:

Bezuidenhoutseweg 67, 2594 AC, Den Haag (Jalan kaki saja dari Den Haag Centraal Station)

Tidak perlu janji karena dapat langsung saja datang. Jam pelayanannya dimulai dari pukul 09.00 – 12.30. Lebih baik datang pagi, kemudian langsung ke lantai 1 menuju loketnya. Perdokumen dikenai biaya sebesar 10 Euro.

Pembayaran bisa menggunakan PIN atau Chipknip.

c. KBRI Indonesia
Akhirnya sampai juga ke proses yang terakhir. Pemegang ijazah yang telah memiliki cap dari IB-Groep dan Kementerian Luar Negeri Belanda bisa langsung menghadap bagian konsuler. Untuk cap ke ijazah aslinya dikenai biaya 20 Euro perdokumen, sedangkan untuk cap ke fotokopi dokumen dikenai biaya 10 Euro perdokumen.

Ingat: Pembayaran TIDAK bisa menggunakan PIN atau Chipknip. Bawa uang kontan dari rumah.

Baiklah sekian pengalaman saya ketika mengurus proses – proses administrasi kepulangan dari Belanda ke Indonesia. Semoga cukup jelas dan bisa membantu teman – teman semua.

Nov 12

Matematika itu Menyenangkan

Artikel Tidak ada komentar »

oleh: Marwan Wirianto

Kadang-kadang matematika menjadi begitu membosankan. Penuh dengan rumus-rumus. Simbol-simbol dan sebagainya. Untuk kali ini, kita mencoba membuat matematika itu sangat menyenangkan dengan permainan-permainan.

Permainan pertama. Permainan ini dilakukan untuk 2 orang atau 2 kelompok. Mula-mula kita menyiapkan sejumlah ganjil batang korek api misalnya 7 atau 9 batang korek api. Kemudian kedua kelompok itu menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan pertama. Peraturan dalam permainan ini adalah setiap kelompok hanya diijinkan mengambil 1 atau 2 batang korek api dan dilakukan secara bergantian. Pemenang dari permainan ini ditentukan oleh kelompok yang mengumpulkan sejumlah ganjil batang korek api. Untuk lebih jelas perhatikan contoh berikut ini. Misalkan Andi dan Budi akan bertanding dengan korek api yang ada sebanyak 7 buah. Andi (kebetulan menjadi yang pertama) mula mula mengambil 2 batang korek api dari 7 batang mula-mula sehingga sekarang tersisa 5 batang. Kesempatan berikutnya diberikan kepada Budi. Misalkan Budi mengambil 2 batang korek sehingga sekarang tersisa 3 batang. Misalkan Andi mengambil 2 batang dan 1 batang terakhir diambil oleb Budi. Sehingga dengan demikian sekarang Andi memiliki 4 batang sedangkan Budi memiliki 3 batang. Akibatnya Budi dinyatakan sebagai pemenang karena Budi memiliki jumlah korek api ganjil. Jumlah korek api mula-mula tidak harus 7 atau 9 batang, bisa saja dimulai dengan 13 atau 15, tetapi yang terpenting adalah jumlahnya harus ganjil (mengapa?). Dalam permainan ini, secara tidak langsung kita belajar matematika tentang Teori Pemainan (Game Theory). Jadi matematika itu tidak harus selalu rumus-rumus kan !

Entri Sebelumnya
Powered by WordPress .::. Designed by SiteGround Web Hosting .::. Customized by Divisi Website PPI Delft

cssandhtml