Tiba saatnya untuk menyambut kedatangan secara resmi mahasiswa baru di TU Delft dan IHE Unesco tahun 2011-2013. Diharapkan dengan adanya acara ini, mahasiswa baru dapat berkenalan, baik dengan warga lama maupun warga baru, dan cepat beradaptasi dengan kondisi di Belanda pada umumnya.
Sebagai warga negara Indonesia, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah lapor diri ke KBRI Belanda. Oleh karena itu, beberapa anggota dari KBRI akan datang ke Delft untuk mendaftar dan diharuskan pendaftar untuk “MEMBAWA PASPOR”. Setelah itu, acara akan dilanjutkan dengan “acara adat (makan-makan)” dan beberapa informasi dari pengurus PPI Delft.
Undangan ini terbuka bagi semua warga PPI Delft.
PS: Bagi yang menggunakan paspor biru agar juga membawa copy surat tugas belajar dari instansi masing-masing
Peta Lokasi: http://g.co/maps/7csht
Ada apa saja di Halal bi Halal ++ yang lalu ?
Delft, 17 September 2011. Dalam rangka menjalin silahturahmi pasca hari raya idul fitri 1431 H dan HUT RI ke 66 sebulan sebelumnya, PPI Delft menggelar acara “Halal Bi Halal ++“. Acara ini dimaksudkan untuk meningkatkan tali persaudaraan dan silaturahim sesama warga Delft sekaligus memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Acara ini juga dimeriahkan dengan games2 menarik ala 17 Agustusan.
Bagaimana jalannya acara ? mari kita simak bersama-sama…
Sebelum acara dimulai, tim panitia dan pasukannya pun bersiap -siap…
Ternyata senyum manisnya asli di-import dari Jogja. Ini terbukti dari kaos beliau yang bertuliskan “Jogjanya nyAman”
Satu sibuk dengan bola, yang lainnya sibuk dengan mick.
Tak lama warga PPI Delft pun berdatangan. Perkenalan hangat antar wargapun terjadi.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 CET, acara Halal bi Halal ++ pun dimulai, walaupun sedikit agak terlambat.
Pak senot kembali memandu acara selanjutnya, yaitu renungan kemerdekaan RI. Dimulai dari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, warga menyayikannya dengan kidmat dan penuh semangat. Bendera merah putih pun dibentangkan oleh dua pemuda yang gagah mengiringi ke-kidmat-an bak layaknya upacara bendera.
Renungan singkat dengan serious dibawakan oleh pak senot. Dengan suasana hening, pesan dari renungan pun dikumandangkan. ” …kemerdekaan bangsa kita hendaknya disyukuri dengan memberikan secuil kontribusi kita kepada dunia, sekecil apapun itu, kita berikan terbaik buat bangsa kita selagi kita merantau di negeri yang dulu menjajah nenek moyang kita” begitu kira-kira pesan beliau.
![]() |
Memasuki acara selanjutnya, rekan-rakan baru TUD pun diberi kesempatan untuk tampil dan mengenalkan diri. Walaupun tidak semua rekan baru hadir, mereka tetap antusias dengan acara ini. |
Acara yang paling ditunggu pun hadir, dengan menu utama Soto Betawi, para wargapun rela antri untuk melahap makanan buatan ibu-ibu Chef.
Ini dia jawara masakan yang dikomandoi oleh Anna Panjaitan. |
Dengan berlimpahnya rezeki makanan,wargapun tak kuasa untuk nambah terus…
Kemeriahan acarapun dilanjutkan dengan acara games ala 17 Agustusan.
Saudara Marwan dan Caesar dengan riang gembira memandu acara games tersebut.
![]() |
Wah ternyata, tim yang dipimpin H. Baqir ini, melakukan sedikit trik dengan memperlambat laju lawan. Dan hasilnya tidak sia-sia, tim ini pun melaju ke babak final bertemu dengan tim putri.Ternyata, taktik serupa tidak berlaku untuk mengkadaskan lawan para ciwi2 delft. dan para wanita tangguh inipun berhasil mempencudangi tim yang didominasi laki2 “berat”.
|
Memasukkan pulpen ke dalam botol menjadi games selanjutnya. |
Tak patah arang, H. Baqir pun tetap semangat untuk mencoba peruntungan di games ini. Hasilnyapun luar biasa. kombinasinya dengan Adji pun berbuah kemenangan.
|
|
![]() |
Di acara ini pula, terkumpul kurang lebih 65 Euro dari para warga yang sejatinya digunakan untuk membantu pendanaan acara ini. Terimakasih pun teriiring dari Pengurus PPI Delft kepada Warga.
Semoga dengan terlaksananya acara ini, silahturahmi diantara warga PPI Delft semakin akrab dan manis. Sampai ketemu di acara2 PPI Delft selanjutnya.
Tot ziens !!!
Pengurus PPI Delft (Vena R.S.P.) 2011-2012

Laporan Pandangan Mata KoPI Delft 4: “Diagnosa berbasis mikrofluida: peluang menuju kemandirian medis di Indonesia?”
Aktifitas PPI, Informasi, KOPI Delft, Uncategorized Tidak ada komentar »“Perangkat mikrofluida dapat digunakan sebagai media untuk mendiagnosa penyakit. Cara ini adalah salah satu cara diagnosa yang hasilnya didapatkan dengan cepat dan dengan media analisa yang mudah tersebar secara luas” demikian yang disampaikan oleh Dr. Ir. Gea Oswah Fatah Parikesit pada saat Kolokium PPI Delft IV Jumat 6 Februari di fakultas 3mE TU Delft.
Mikrofluida adalah suatu media dengan sistem fluida berskala mikro yang untuk menggerakannya menggunakan perbedaan tegangan listrik. Hasil diagnosis mikrofluida yang dilakukan pada sample bisa juga disimpan dalam format data elektronik untuk keperluan analisis yang lebih mendalam.
Lebih lanjut, Gea yang juga merupakan peneliti Post-Doctoral di TU Delft ini memaparkan bahwa, Aplikasi sistem ini dapat juga diterapkan dalam kasus wabah penyebaran virus flu burung di Indonesia. Sampai tahun 2008 Indonesia masih menjadi salah satu negara endemik flu burung, hal ini disebabkan oleh lemahnya tindakan preventif serta lambatnya pengambilan tindakan apabila suatu daerah sudah positif terserang flu burung.
Sementara itu, Diagnosis terhadap virus flu burung haruslah dilakukan dengan secara spesifik dan dalam tempo relatif singkat agar dapat dipersiapkan tidakan selanjutnya. Mikrofluida merupakan salah satu alternatif pilihan dalam membantu proses diagnosis tersebut serta menganalisis ada atau tidak adanya penyakit flu burung pada tahap awal.
Dalam diskusi terungkap bahwa tantangan yang mungkin muncul adalah bagaimana supaya teknik-teknik diagnosis cepat semacam ini bisa ditemukan sendiri oleh bangsa kita, mengingat kita lah yang akrab dengan masalah-masalah kesehatan yang terjadi di negara kita dan sudah seharusnya kita pula lah yang menemukan solusinya secara kreatif. “Selama masih terikat dengan patent dari negara lain, sulit untuk mengatakan kita sudah independen dalam mengelola sistem kesehatan kita”, Tandasnya.
Dan untuk mengatasi masalah paten tersebut forum diskusi KOPI Delft mengarah kepada upayauntuk mengerti tentang proses pembuatan serta struktur model sehingga produk baru dapat ditemukan tanpa melanggar produk yang sudah memiliki paten.
Gea juga mengungkapkan, bahwa tantangan terbesar terletak pada implementasi perangkat ini di lapangan, terutama dari aspek sosial, budaya, dan ekonomi karena dalam teknologi ini seolah fungsi diagnosis yang umumnya dilakukan oleh dokter diwakilkan oleh sebuah perangkat mikrofluida. Sehingga sangat mungkin untuk disalahpahami sebagian masyarakat bahwa peralatan lah yang memvonis penyakit seseorang.
Selain itu, tenaga medis dalam jumlah yang cukup banyak juga sangat dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan daya jangkau diagnosis yang seluas kepulauan Indonesia, selain juga karena alat tersebut berhenti hanya pada tahap diagnosis namun langkah penyembuhan selanjutnya sangat tergantung dari ketersediaan tenaga kesehatan di lapangan. (db/ys)


























