To The Netherlands II: Departure
DEPARTURE
Beberapa pokok bahasan:
1. Fiskal
2. Transportasi Schiphol – kota
3. Sedikit tentang Schiphol
2. Sekali lagi, urusan kelengkapan administrasi, check-list?
Taruh surat-surat penting pada tempat yang mudah dijangkau oleh anda (backpack, tas pinggang, etc). Beberapa dokumen penting:
· Passport
· Paket NEC (surat kontrak beasiswa & asuransi).
· Tiket pesawat (e-ticket).
· Rute Schiphol – kota anda (bila tidak dijemput).
3. Bebas fiskal tidak sih?
Bisa bebas, asal anda punya waktu untuk mengurus. Lihat point 20.
4. Bagaimana caranya mengurus bebas fiskal?
Berikut pengalaman Farid Mardin mengurus bebas fiskal dalam waktu 2 hari saja:
Pertama-tama membuat surat dari tempat kerja untuk permohonan pembebasan fiskal LN. Surat tersebut ditujukan ke Direktur Pembinaan Kelembagaan dan Pemberdayaan Peranan Masyarakat (PKPPM). Perihal suratnya: Permohonan Bebas Fiskal Luar Negeri.
Isi suratnya menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah staf di kantor tersebut dan diizinkan untuk melanjutkan studi ke Belanda dalam rangka Program Kerja Sama RI dan Belanda. Surat tersebut harus ditandatangani oleh Atasan/Pimpinan Kantor.Untuk yang bekerja di lingkungan Universitas, surat tersebut harus ditandatangani oleh Dekan atau Pembantu Rektor dan kemudian diantar langsung atau dikirim ke Direktorat PKPPM di Wisma Aldiron Lt. 3 Pancoran.
Bersama surat tersebut harus dilampirkan
1. Daftar Riwayat Hidup,
2. Admission Letter dari Universitas.
3. Kopi Pasport,
4. Kopi Scholarships Award Letter
5. Kopi MOU antara RI dan Belanda (bisa dipinjam dari arsip di Direktorat PKPPM untuk di kopi. Mereka punya arsip MOU antara Pemerintah RI dan Pemerintah negara-negara lain yang selama ini telah menjalin kerjasama dengan Indonesia).
Direktorat PKPPM akan membuatkan surat kepada Biro Kerja Sama Luar Negeri (BKSLN) DIK NAS. Setelah suratnya selesai, kemudian diantarkan ke BKSLN di kantor Dik-Nas Senayan (Gedung Set Jen Diknas/Gedung A) Lantai 7. Selanjutnya BKSLN DIK-NAS akan membuatkan surat kepada Kepala Kantor Pajak Wilayah Jakarta IV untuk permohonan pembebasan Fiskal. Setelah selesai dibuat, surat tersebut diantar ke Kantor Wilayah Pajak Jakarta IV (Di Belakang Menara Jamsostek Gat-Subroto, kantor NEC). Bila lampiran-lampiran di atas lengkap, maka saat itu juga akan didapatkan persetujuan bebas fiskal, tetapi Surat Keterangan Bebas Fiskal Luar Negeri (SKBFLN) baru dapat diambil bila sudah dapat menunjukkan visa, jadwal keberangkatan (tiket pesawat), dan pasport asli. Prosedur tersebut berlaku untuk yang bekerja di lingkungan Universitas. (dosen, tenaga administrasi, pegawai lembaga penelitian universitas, dll)
Sedangkan untuk yang bekerja bukan di lingkungan Universitas, surat pengantar dari kantor tempat kerja langsung ditujukan kepada Biro kerja Sama Luar Negeri DIKNAS (tidak perlu melalui Direktorat PKPPM DIKTI).
Mungkin pengurusannya bisa kolektif bila pemohon berasal dari instansi yang sama sehingga cukup satu surat pengantar dari instansi tempat bekerja
5. Membayar fiskal dimana ya?
Airport cengkareng. Didekat pemeriksaan imigrasi. Bayar langsung pada loket yang ditunjuk, dengan tanda terima resmi, anda tinggal melewati imigrasi. Tunjukkan bukti pembayaran dan semuanya beres. Siapkan uang Rp. 1.000.000,- (satu juta, tahun 2005 lho). Plus uang Rp. 100.000,- untuk pajak bandara. Semuanya ada tanda terima resmi.
6. Apakah fiskal diganti oleh NEC?
Pada tahun 2005, tidak diganti.
7. Nego fiskal bisa tidak ya?
Belum-belum sudah mau mencoba menyuap??? Anda punya beban moral untuk menjadi contoh yang baik kan? Bayar sajalah satu juta itu, “Cuma” 90 euros kok, yang anda terima dari beasiswa malah lebih banyak dari itu.
8. Perlu bawa uang berapa ya?
Pertanyaan bagus! Ingat schiphol terkenal copetnya, nggak kalah dengan copet di Indonesia. Soal copet lihat point 31. Karena anda mahasiswa (surat-surat pendukung lengkap), biasanya tidak diminta menunjukkan uang di imigrasi (kadang-kadang pihak imigrasi meminta kita menunjukkan kecukupan uang pada saat berkunjung ke suatu negara sebagai turis).
Jadi anda Cuma butuh uang untuk survival hari-hari awal, termasuk didalamnya ongkos transportasi. Soal transportasi public (koneksi & biaya) lihat pada bagian Living in The Netherlands. Asal anda mengikuti gaya hidup mahasiswa, mau sedikit repot, maka ongkos hidup sehari-hari tidak mahal. Biaya hidup sehari-hari, sekitar 10 euros (masak sendiri, plus makan roti) sudah cukup; dengan 20 euros sehari, anda terhitung hidup “mewah”. Transfer dari NEC masuk setelah pengurusan rekening bank selesai. Jadi perhitungan biaya 1 minggu awal kurang lebih:
· Uang makan 7 hari x 20 euros/hari = € 140
· SIM Card = € 10
· Transportasi Schiphol – kota (kira-kira) = € 20
· Beli sepeda = € 60 (bisa lebih, atau kurang)
· Cadangan = € 100
Sub Total tanpa ijin tinggal = € 330
· Ijin tinggal (VTV & MVV) = € 438
Membayar ijin tinggal bisa menunggu kiriman NEC dulu. Pembayaran ijin tinggal bisa dilakukan secara online-banking. Kalau ada biaya lain-lain (misalnya: toiletries, parfum, etc), ya silahkan tambah sendiri. Oh ya sisakan beberapa ratus ribu rupiah untuk perjalanan kembali ke Indonesia.
9. Pesawat apa yang dipakai?
Informasi yang saya terima, rekan-rekan 2006 menggunakan Malaysian Airlines (MAS). Umumnya pesawat MAS dari Indonesia tiba di Schiphol sekitar jam 06.35 (tolong check lagi).
Pada tahun 2005, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij alias Royal Aviation Company alias KLM. Itu sebabnya ada lambang mahkota dan menggunakan warna biru.
Mungkinkah untuk city tour Kuala Lumpur? No… forget it! Namun anda masih bisa melakukan, Airport tour hehehe. Singgah di Kuala lumpur hanya 45 menit (tahun 2005, KLM) atau 2-5 jam (MAS, tergantung berangkat dari jakarta jam berapa), dan biasanya sudah malam (Kuala lumpur lebih maju 1 jam, Belanda maju 5-6 jam).
10. Online check-in?
Coba cari tahu apakah MAS bisa melayani online check-in. Jika bisa, sebaiknya online check-in terlebih dulu.
Pada tahun 2005, dengan KLM, anda dapat melakukan online check-in. Caranya: Pertama masuk ke situs www.klm.com, lalu pilih menu “services“ dan sub-menu “check-in online”. Siapkan e-ticket number, flight number, nama belakang (seperti yang ada di dalam e-ticket), dan nomer passport (kalau tidak salah, agak lupa). Pada saat check-in, anda bisa memilih tempat duduk sendiri dan melihat denah tempat duduk. Check-in dibuka 30 jam sebelum jam keberangkatan.
Untuk jumbo jet KLM, seat yang saya sarankan: 21 A-B-C-D-E-F. Seat ini pas disebelah pintu masuk tengah pesawat, lalu disebelahnya ada WC dan tangga menuju kelas bisnis. Kaki anda bisa mendapat ruang yang lebih lega. Disadvantage: pesawat TV dekat sekali dengan anda, jadi harus sedikit mendongak.
Untuk MAS B737-400P, seat yang saya sarankan: 38 (atau 48) A-B-C-H-J-K. Konfigurasinya hampir sama dengan KLM (sebelah ada toilet, dekat pintu keluar, dan berhadapan dengan crew). Seat nomer 48 tidak berada di dekat toilet.
11. Bagasi?
Atas kerjasama NEC dan KLM, kami (stuned 2005) mendapat jatah 30 Kg. Pengalaman teman-teman 2005, 30 Kg bagasi (tas besar), lalu 10 Kg hand-luggage, dan backpack sekitar 5-7 Kg. Dulu backpack tidak ikut ditimbang, dan 30 Kg adalah allowance untuk tas besar saja. Untuk kondisi 2006, mungkin ada perubahan.
Share bagasi dimungkin juga. Namun biasanya teman-teman semua membawa lebih dari 30 Kg, jadi check-in kelompok (dengan tujuan saling bagi allowance bagasi) kok kurang berjalan ya. Namun ada baiknya juga, bisa saling bantu angkat-angkat.
Tips: selalulah bersikap ramah kepada para petugas. Katakan anda mahasiswa, dan bila ada kelebihan bagasi, itu sebagian karena buku-buku keperluan sekolah (iya kan?).
12. Makanan & minuman di pesawat?
KLM dan MAS mengijinkan anda meminta makanan khusus (diet, kesehatan, agama). Lihat di:
http://www.klm.com/travel/nl_en/travel_information/travel_planning/special_meals/index.htm?
http://hq.malaysiaairlines.com/mh/eng/flying_with_us/during_your_flight/cuisine/cuisine.asp
13. Bagaimana mengatasi jetlag (jika ada)?
Usahakan untuk tidur yang banyak di pesawat. Minum air putih dan Vitamin C selama perjalanan. Setelah sampai di Belanda, usahakan langsung mengikuti ritme setempat dan jam istirahat setempat. Kalau ngantuk, ya dikuat-kuatkan, dan tidurlah diatas jam 21.00. Biasanya, hari ke-2, anda sudah bisa beradaptasi dengan baik.
14. What to do in the airplane?
Tidur, baca buku (supaya ngantuk dan membunuh waktu), makan (bagaimanapun tidak enaknya makanan pesawat). Anda sampai di Schiphol sekitar jam 05.30, di Indonesia itu jam 10.30, alias sudah mendekati waktu makan siang. Kalau anda membeli makanan di Airport ya pasti mahal. Jadi usahakanlah untuk makan di pesawat atau bawalah makanan/roti tersebut. Sikat gigi dan cuci muka sebelum pesawat mendarat.
WARNING: jangan nyalakan HP selama dalam pesawat (baik saat pesawat sudah mendarat atau dalam persiapan terbang), ingat anda merupakan representatif warga Indonesia saat itu, tolonglah untuk sedikit behave J.
15. Schiphol tuh aman tidak ya?
Kalau anda selalu buka mata dan waspada ya aman-aman saja. Umumnya yang dikeluhkan adalah soal copet atau kehilangan laptop (canggih kan). Sebenarnya soal copet-mencopet dimana-mana hampir sama, kalau anda berpergian di Eropa seperti ke Eropa Timur, Italia, Spanyol, Paris, dll; selalu menerima warning yang sama yaitu mengenai pickpocket. Model copet sobek tas juga sudah umum disini. Jangan meremehkan kemampuan mereka.
Tips, selalu taruh barang bawaan di depan anda (alias mudah diawasi). Jangan tertipu dengan penampilan yang perlente. Terakhir, ingat selalu nasihat Bang Napi “Waspadalah …. Waspadalah!!!”
16. Apa ada yang menjemput?
Tergantung universitas, PPI setempat, ataupun teman anda yang sudah terlebih dahulu tiba di Belanda. Sebaiknya sih minta dijemput, supaya tidak terlalu bingung dan ada yang membantu mengawasi barang. Kalaupun memang tidak ada yang menjemput, tetap tenang. Hampir semua informasi juga tersedia dalam bahasa inggris.
17. Saya tidak dijemput, bagaimana caranya sampai ke kota tujuan saya? (lebih lengkapnya “Living in the Netherlands”)
Transportasi publik, sebisa mungkin tidak menggunakan taxi. Mahal lah dan kadang ada cerita seram tentang taxi gelap. Dari pintu kedatangan (biasanya gate F-3), anda tinggal jalan lurus saja sampai gerbang Schiphol. Tidak jauh (di sisi kiri) akan anda lihat mesin-mesin berwarna kuning. Itulah mesin untuk membeli tiket KA. Mereka menerima pembayaran koin maupun kartu (debet/kredit). Untuk kasus pendatang awal, belilah tiket di loket KA di dalam Schiphol. Tempatnya juga di sisi kiri (tanya orang kalau bingung). Sekalian minta mereka untuk print detail perjalanan (berangkat dari platform berapa, ganti KA dimana, ganti ke platform berapa, etc). Biaya membeli tiket dari loket memang lebih mahal beberapa puluh sen dibandingkan membeli langsung di mesin/website.
18. Pemeriksaan imigrasi seperti apa ya?
Ya biasalah. Passport dilihat sambil ditanya “mau apa kesini”. Usahakan tenang dalam menjawab dan YAKIN (jangan nervous). Kalau anda terlihat nervous, malah nanti ditanyai macam-macam karena mereka jadi curiga. Pertanyaan yang biasanya muncul: tujuan apa, tinggal dimana, biaya sendiri / beasiswa, sekolah dimana (nama sekolah dan kota), dan berapa lama.
19. Bagaimana supaya bagasi saya tidak terkena random check?
Sama seperti diatas, berjalanlah dengan tenang. Mereka melakukan pemeriksaan secara random, dan kepada orang-orang yang penampilannya “mencurigakan”. Mereka akan tanya “isinya apa”, jawab saja dengan santai dan PD bahwa isinya buku dan pakaian karena anda mahasiswa. Sejauh yang saya tahu, bumbu, laptop, dan obat-obatan ringan tidak perlu declare. Kalau anda membawa installer program, ya jawab saja, yang asli ada di negara saya (jawab kalau hanya ditanyakan!).


